Senin, 15 Februari 2010

Serat SAMORO GOMO Jilid II (Keabadian Mengakar Jiwa Yang Sempurna)

Serat SAMORO GOMO Jilid II (Keabadian Mengakar Jiwa Yang Sempurna)
oleh : panjiasmoro
Ada banyak orang menganggap bentuk dan kekekaran tubuh mencerminkan KEKUATAN MANUSIA, tetapi untuk menjalankan kewajiban mendatangai SURGA KECIL ternya tadia hanyalah seorang dewasa yang memiliki kekuatan seperti bayi yang baru lahir yang hanya bisa meraba raba tanpa tau apa yang sebenarnya dia inginkan......ada sebuah RAHASIA KEKUATAN SEJATI yang sebenarnya tidak perlu bersusah sudah dalam mengalirkan ENERGI SEJATI untuk menggetarkan HASRAT BIRAHI seorang wanita untuk mencapai PUNCAK SAMORO GOMO atau ASMORO GOMOtanpa harus berbasah dan berenang dalam lautan keringat dingin.......tetapi dengan hanya sentuhan-sentuhan kecil tetapi telah menbawa GETARAN SAMPAI KE PUSAR PERUT yang rasanya selama 100 hari tetaplah terasa sampai pada tulang sumsumnya......untuk bisa menguasai MISTERI ILMU SAMORO atau ASMORO GOMO JILID II ini, mulailah dengan menguasai materi NAFAS PEMBERSIH...... adapun tehnik-tehnik melakukannya adalah sebagai berikut :
1. Sikap duduk dengan posisi sumbu tulang belakang benar-benar tegak lurus, dengan kepala sedikit mendongak keatas biar lebih melonggarkan aliran nafas kita.
2. Persiapan padangan kita pada satu titik padangan, lanjutkan padanganan ke ujung hidung, lanjutkan dengan terpejam rileks dan aturan NAFAS HISAP LEWAT HIDUNG, KELUARKAN LEWAT HIDUNG RILEKS.
3. Posisi tangan ada di atas lutut bersila kita, lanjutkan dengan posisi gerakkan tangan dari bawah bersamaan ke atas bertemu di atas kepala dengan diiringai hisapan nafas lewat hidung.
4. Tangan turunkan ke depan dada posisi BUNGA TERATAI KUNCUP....dan nafas ditahan di dada rileks sampai dengan hitungan sepuluh detik.
5. Setelah itu tidak mampu tau hitungan ke 10 detik buang nafas lewat hidung rilaks, bersamaan dengan gerakkan kedua tangan dari depan dada menjulur lurus ke depan lalu tarik kesamping lurus.
6. Kembali ke posisi semula ke dua tangan di atas dua lutut kaki kita , mulailah lagi gerakkan dan nafas seperti petunjuk diatas serta ulangi tiap hari kurang lebih 15 kali dalam sehari.
Demikianlah apa yang menjadi laku dalam kehidupan berpasangan manusia SERAT SAMORO GOMO / SERAT ASMORO GOMO jilid II.......dan masih banyak lagi laku-laku pernafasan dan meditasi dalam menuntun manusia untuk mencapai HASRATASMORO yang SEJATI.
Diterbitkan di: Nopember 24, 2009

Bismillahirrohmannirrahim

Dengan menyebut nama ALLAH yang maha pengasih dan maha penyayang.

Sabtu, 02 Januari 2010

Kaukus Parlemen Pancasila Desakkan Gelar Pahlawan bagi Gus Dur



Warta 

Kaukus Parlemen Pancasila Desakkan Gelar Pahlawan bagi Gus Dur
Jakarta, NU Online 01/01/2010.
Kaukus Parlemen Pancasila yang dimotori Rike Diah Pitaloka dan Eva KS dari PDI Perjuangan, Bambang Soesetyo dari Fraksi Golkar, Romy dari PPP, Muzani dari Partai Gerindra, dan Akbar Faisal dari Hanura mengusulkan kepada DPR dan pemerintah untuk memberikan gelar pahlawan nasional kepada KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur).
"Selayaknya DPR mengusuklkan dan pemrintah memberikan gelar pahlawan nasional kepada Gus Dur. Mengingat kinerja almarhum Gus Dur dan keberlangsungan ide-ide kebhinnekaan untuk memperkuat NKRI," kata Rieke di Jakarta, Jum'at (1/1).
Menurut Rieke yang mewakili Kaukus Parlemen Pancasila, sosok Gus Dur adalah putra terbaik dan tokoh dunia berdasarkan pemikiran-pemikiran dan tindakannya yang mencerminkan kepentingan semua umat secara universal.
"Berpulangnya Gus Dur mendapat simpati seluruh penjuru dunia dan tidak terbatas warha Indonesia maupun warga nahdliyin saja. Gus Dur mendapat simpati seluruh lapisan masyarakat serta melintasi batas negara dan sentimen-sentimen primordial berbasis apapun," paparnya.
Tidak heran kalau Kaukus Parlemen Pancasila mendesak pemintah agar memberikan gelar pahlawan kepada Gus Dur. (sam/ant)

Kamis, 31 Desember 2009

Demokrasi, Islam, Indonesia:
Dari Socrates sampai Gus Dur

Yudhistira ANM Massardi

ISLAM dan demokrasi – apakah bagaikan bumi dan langit?

Islam adalah agama langit, yang diwahyukan Tuhan kepada Nabi Muhammad Saw, melalui Al-Qur'an (vox Dei, suara Tuhan, bukan vox populi, suara umat), dan harus diimani sebagai rahmat bagi seluruh alam semesta. Secara vertikal/teologis, ia bersifat dogmatis, tapi secara horizontal/sosial bersifat lentur, dan terbuka ruang ijtihad bagi para ahli.

Demokrasi adalah hasil akal budi manusia di bumi yang, pertama-tama, bersandar pada asas vox populi vox Dei. Merupakan sebuah bentuk/sistem pengelolaan pemerintahan yang pertama kali dikembangkan di negara kota Athena zaman Pericles di abad kelima dan keempat Sebelum Masehi.

Demokrasi merupakan wacana terbuka dan terus berkembang. Bahkan, di tahap awal, dikritik sendiri oleh "bapak" sekaligus "korban"-nya yang pertama, Socrates: "Demokrasi, yang merupakan bentuk pemerintahan yang menggairahkan, penuh dengan variasi dan kekacauan, ...dan hasratnya yang tak bisa dikenyangkan bisa membawa kepada kehancuran."

Dalam perkembangan berbilang abad, demokrasi diperkaya oleh Magna Carta (1215): membatasi dan membagikan hak-hak kaum feodal kepada rakyat; John Locke (1690): semua pemerintahan harus konstitusional dan mendapatkan persetujuan dari yang diperintah; Montesquieu (1748): pemisahan kekuasaan eksekutif, legislatif dan yudikatif; Deklarasi Hak Manusia dan Warga Negara Prancis (liberte, egalite, fraternite), serta Bill of Rights Amerika (1789): kebebasan berbicara, berserikat, berekspresi, dan seterusnya.

Tetapi, belakangan, demokrasi diklaim dan dipromosikan ke seluruh dunia sebagai "American Idea" – dalam gerbong-gerbong kapitalisme, liberalisme, dan sekularisme – dan akhirnya berbenturan dengan fasisme, komunisme, dan belakangan ini mengobarkan "perang peradaban" dengan... Islam!

Demokrasi akhirnya memang terbaca sebagai: "Amerika/Barat/
Kristen/Kapitalis/Liberal/Sekuler." Oleh karena itu, demokrasi dianggap merupakan "ancaman" bagi peradaban di luarnya, khususnya "dunia Islam" – dan sebaliknya.

Dalam konteks holistik, itu menegaskan kembali kontras fundamental "awal kejadian"-nya: Islam yang merupakan vox Dei berhadapan dengan demokrasi yang mengagungkan vox populi. Daulat Tuhan vis a vis daulat umat.

Sesungguhnya, asas-asas demokrasi dalam formatnya yang awal (sampai Bill of Rights) juga merupakan nilai-nilai utama di dalam Islam – sebagiannya tercermin dengan indah di dalam silaturahim Idul Fitri, ritual solat dan haji. Tetapi, Islam selalu dipersepsi sebagai "antidemokrasi" melalui contoh-contoh yang ekstrem: kaum perempuannya dieksploitasi dan ditindas (poligami dan jilbab), ketidakadilan (hak waris), memiliki hukum yang kejam (potong tangan, rajam, pancung), tidak toleran (melarang perkawinan antaragama; yang meninggalkan agama Islam wajib dibunuh; nonmuslim dianggap kafir), haus darah/teroris (jihad).

Dalam konteks Indonesia, negara dengan populasi pemeluk Islam terbesar di dunia, semua ketegangan tadi relatif hanya muncul di ruang-ruang "terbatas." Pertanyaan-pertanyaan seperti: "Apakah seorang muslim tidak bisa demokratis?", "Apakah seorang demokrat tidak bisa Islami?", tidak relevan. Pengalaman bangsa ini memberikan jawaban mencengangkan.

Khususnya di Jawa dengan tradisi agraris/pedalaman yang kuat, ada kelenturan luar biasa dalam beradaptasi dengan kebudayaan dari luar. Animisme menyerap Hinduisme/Buddhisme tanpa konflik, bahkan melahirkan sinkretisme. Kedatangan Islam diterima baik dan melahirkan format asimilasi yang unik: Kejawen. Begitu juga ketika modernisme/Barat/Kristen dibawa ke sini oleh penjajah Portugis dan Belanda, tidak terjadi resistensi keras.

Perdebatan yang gaduh justeru terjadi tatkala ada upaya pemilahan dan pemihakan atas konsep Barat-Timur (Polemik Kebudayaan), Islam tradisionalis-modernis (debat NU-Muhammadiyah). Pertumpahan darah memang sempat terjadi, tetapi itu ketika demokrasi jatuh-bangun, Partai Komunis Indonesia bertarung dengan TNI, dan umat Islam yang lama terpinggirkan unjuk gigi (1965).

Proses akulturasi dan asimilasi yang panjang itu akhirnya memberikan jawaban unik atas pertanyaan tadi. Sebuah jawaban yang indah dan khas Indonesia: "Seorang Indonesia bisa menjadi seorang muslim sekaligus demokrat, dan sekuler." Itu menggumpal dalam sosok-sosok historikal: Tjokroaminoto, Soekarno, Hatta, Ahmad Dahlan, dan profil-profil kontemporer seperti Abdurrahman Wahid, Nurcholish Madjid, Amien Rais, Akbar Tandjung... Pemilu sebagai perwujudan vox populi pun berlangsung aman dan damai.

Jadi, dialektika antara demokrasi, Islam dan Indonesia berlangsung "fine, fine saja dan cool," meskipun sempat diklaim telah memakan "korban" pula, yakni salah seorang pejuangnya yang paling gigih: Gus "Socrates" Dur! []

* Mukadimah untuk buku Hajatan Demokrasi (Gatra, 2006).
   Sumber http://kabarnyaindonesia.blogspot.com
 

Senin, 04 Mei 2009

Romo Mangun


#Romo Mangun
Antara Sastra dan Arsitektur

Diskusi dan Pameran

Senin, 4 Mei 2009, jam 1400-1700 WIB
Goethehaus, Jalan Sam Ratulangi 9-15, Jakarta Pusat.

Pembicara Diskusi:
- Mudji Sutrisno
- Erwinthon Napitupulu

Pembaca Petikan Karya Sastra:
Iman Soleh

Moderator:
Nirwan Ahmad Arsuka

Dipersembahkan oleh Dewan Kesenian Jakarta, Goethe Institut, Harian KOMPAS, Gramedia, dan Perhimpunan Alumni Jerman, dalam rangka memperingati 10 tahun wafatnya Romo Mangun.


Novel-novel Romo Mangun memberikan kita kesempatan untuk menikmati kompleksitas persoalan dan seni menuliskannya. Bukan hanya politik sebagai muatan sastra yang penting, tetapi juga sejarah, relijiusitas, ketegangan antara keselibatan dan cinta dan birahi, kebimbangan di antara kesetiaan dan pengkhianatan, antara sensualitas dan rumusan filosofis, antara kelisanan dan keberaksaraan, nasionalisme di satu sisi dan pilihan bebas di sisi lain, bahkan ketaksaan keperibadian di jaman yang berubah.

Romo Mangun adalah penerima Aga Khan Award for Architecture (in the Islamic World).


Salam,

Marco Kusumawijaya
Ketua Pengurus Harian
Dewan Kesenian Jakarta (DKJ)

Taman Ismail Marzuki,
Jl. Cikini Raya 73, 
Jakarta 10330

Tel. +62-21-31937639, 3162780, 39899634; Fax. +62-21-31924616
Hp. 0816811563



Sumber : http://kabarnyaindonesia.blogspot.com/2009/04/ac-i-undangan-diskusi-dan-pameran-romo.html

Sabtu, 10 Januari 2009

#Bajak laut

 

#Bajak laut

Bajak laut (pirate) adalah para perampok di laut yang bertindak di luar segala hukum. Kata pirate berasal dari bahasa Yunani yang berarti 'yang menyerang', 'yang merampok'. Dalam Bahasa Indonesia dan Melayu sebutan lain untuk bajak laut, lanun[2], berasal dari nama lain salah satu suku maritim di Indonesia dan Malaysia, Orang Laut.
Tujuan mereka tidak bersifat politik, mereka mencari keuntungan sendiri dan tidak melayani siapapun kecuali di bawah bendera Jolly Roger (bendera bajak laut). Banyak dari corsario (corsair) berubah profesi menjadi bajak laut selama periode perdamaian antara Spanyol dan Inggris.
Target utama penyerangan para bajak laut adalah sebagian besar kapal-kapal (dan juga daerah-daerah kolonial) yang berada di bawah kekuasaan Spanyol atau Portugis. Ini adalah suatu hal yang logis karena kedua kerajaan tersebut itulah yang memonopoli perdagangan antara Eropa dan Dunia Baru.
Kapal-kapal yang mengangkut emas dan perak dari Amerika merupakan sasaran empuk para bajak laut.
Namun tak satupun bendera yang selamat dari kekejaman anjing-anjing laut. Raja-raja Eropa mencoba untuk berjuang melawan para pembajak dengan memasok senjata dan peralatan yang cukup pada kapal-kapalnya. Ironisnya, setiap kali diberikan kepada seorang kapten pemerintahan pada satu armada yang siap melawan pembajak — ini adalah undangan baginya untuk menyiapkan diri, dan kenapa tidak, berganti menjadi seseorang yang tadinya mau ia lawan.
Pembajakan laut, atau perompakan, adalah perampokan yang dilakukan di lautan, atau kadang-kadang di pantai.
“Dalam pekerjaan biasa dan terhormat, berarti bekerja mati-matian untuk upah yang sedikit. Sedangkan kehidupan seorang bajak laut, adalah puncak kemenangan dan keserakahan, kepuasan dan kekayaan, kebebasan dan lagi kekuasaan” - Bartholomew Roberts

 

Catatan kaki

  1. ^ Lapian, Adrian B. (2009). Orang Laut-Bajak Laut-Raja Laut Sejarah Kawasan Laut Sulawesi Abad XIX. Komunitas Bambu. ISBN 979-3731-59-1.
  2. ^ (Inggris) John Crawfurd, A descriptive dictionary of the Indian islands & adjacent countries, Bradbury & Evans, 1856.
  3. Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas