Filsafat kelahiran
oleh : asepjamaludin
Pengarang : Asep Jamaludin
Rotasi waktu bergerak begitu cepat mengiringi setiap hembusan nafas yang ¬masuk-keluar-lalu masuk lagi pada fananya kenyataan alam dunia ini. Tak henti-hentinya manusia yang mengaku penghuni utama semesta dunia ini berambisi dan berambisi untuk meraih dan mendapatkan segala hal yang dapat memberikan kepuasan dalam aji mumpung-nya kehidupan—baik yang bersifat material seperti harta, tahta dan harkat. Maupun yang bersifat immaterial seperti perolehan keuntungan pahala sebanyak-banyaknya guna membeli sepetak lokasi di surga nanti.
Kehidupan dan masa depan adalah suatu hal unik yang pernah hadir dalam fenomena ke-manusia-an dimana kedua hal tersebut tidak pernah bisa di perkirakan hasilnya meskipun kematangan konsep telah diciptakan bahkan dijalankan. Keunikan kedua hal tersebut bagi sebagian kalangan menjadi fenomena yang sangat pantas untuk dicerna dalam dunia maya sedalam-dalamnya dan sedetail-detailnya, namun bagi sebagian kalangan yang lainnya justru menjadi peluang yang harus dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk memperoleh sesuatu atau imbalan yang manusia sendiri tak mampu menilainya dan hanya mampu dinikmati saja.
Kehidupan kemudian menjadi arena berkumpulnya makhluk-makhluk dengan bentuk kasar dan ambisius. Persengketaan antara hak dan batil menjadikan simbol dualisme realita manusia dalam menapaki waktunya pada alam kali ini. Kehidupan pun memberikan deskripsi kongkrit bahwa setiap makhluk yang dikatakan hidup adalah mereka yang melakukan pergerakan, manusiakah itu? Hewankah itu? Atau Tumbuhankah itu?. Setiap gerakan menjadi simbol pada sebuah perubahan atau pertumbuhan makhluk, sehingga dalam realita-nya tidak ada suatu apapun yang dikatakan makhluk jika tidak melewati masa-masa awal pertumbuhan.
Manusia secara biologi diciptakan dari pertarungan sengit antara sel sperma jantan yang terbaik dengan sel ovum betina, pun yang terbaik, maka terciptalah manusia dengan segala kerapuhannya dalam kandungan rahim seorang wanita. Beberapa bulan kemudian keluarlah manusia dari rahim tersebut dan untuk pertama kalinya menghirup sesegaran aroma dunia yang terkadang harum terkadang pula busuk menyengat.
Prosesi kenyataan yang dikenal dengan kelahiran sesosok makhluk yang bernama bayi selalu dihiasi dengan sebuah tangisan dahsyat, seolah-olah memberikan simbol bahwa sesungguhnya alam yang akan dilaluinya kali ini sangat perih dan kejam. Mungkin jika pada waktu itu, sebelum adam dan hawa diturunkan ke dunia karena memakan buah yang dilarang Tuhan kepadanya mereka diberikan pilihan mungkin juga mereka tidak akan memilih untuk tinggal di dunia tetapi justru mereka akan lebih memilih untuk tinggal disurga selama-lamanya karena konon katanya tempat yang bernama surga itu sangat indah dan sungguh sangat nyaman.
Terlepas, Masa yang digerakan oleh waktu memberikan jeda pada kehidupan manusia untuk bertumbuh dan melakukan pergerakan baik secara fisik maupun non-fisik, sehingga sampailah manusia pada sebuah kenyataan dimana ia diberikan kesempatan untuk bereksplorasi, bertindak dan bersenggama dengan hal-hal yang disukainya, walaupun tidak sedikit dari makhluk yang bernama manusia ini yang tidak mendapatkan kesempatan seperti ini atau terputus usianya di dunia dan berpindah ke tempat selanjutnya setelah dunia.
Bagi mereka yang mendapat kesempatan lebih lama, mereka mencoba bahkan ada juga yang memastikan untuk memprediksikan masa depan mereka guna meraih penghidupan yang tentunya lebih baik. Aneka reka perkara dilakoni agar apa yang diharapkannya diperolehnya, ada yang bergerak dengan diawali memohon pertolongan dari sesuatu yang dianggapnya sacral dan suci kemudian melangkahkan kakinya dan ada pula yang bergerak sesuai dengan kemantapan atau keahlianya dalam berfikir dan bertindak untuk mencapai kenyamanan kehidupan dirinya hari ini dan selanjutnya.
Kepuasan batin dan pengakuan public-lah yang dijadikan sebagai parameter mutlak sehingga tidak dapat diganggu gugat oleh siapapun, karena setiap dari mereka meng-amin-kannya, dalam pengertian bahwa setiap manusia memimpikan dan merindukan dirinya berada pada tataran kenyataan tersebut. Kenyamanan dan kepuasan adalah suatu titik dimana manusia orgasme setelah menjalani kasar-lembutnya roda perputaran kehidupan.
Tuhan yang telah menciptakan waktu dan manusia memberikan kodenya dengan detik ke detik, menit ke menit, jam ke jam, hari ke hari, minggu ke minggu, bulan ke bulan hingga tahun ke tahun. Hukum dalam kehidupan manusia ini meniscayakan bahwa waktu yang telah berlalu tidak akan kembali lagi, meskipun hanya dalam putaran detik, menit, jam, hari, bulan ataupun tahun. Waktu yang bertambah secara alamiah memberikan tambahan point pada dimensi kehidupan manusia setiap detiknya, dimana dalam setahun manusia telah melewati 31.536.000 (tiga puluh satu juta lima ratus tiga puluh enam ribu) detik untuk meng-kode-kan berapa banyak waktu yang telah dilewatinya dan perlu diingat bahwa tidak pernah ada waktu yang berkurang kalaupun ternyata pernyataan itu hadir maka sesungguhnya pernyataan itu hanyalah ungkapan depresi dari mereka yang senantiasa tidak memperoleh kenyamanan dan kepuasan dalam jeramnya arung nafas yang bolak-balik keluar masuk dari dalam hidungnya. Setiap detik dalam kehidupan manusia akan senantiasa diwarnai oleh sepercik goresan fenomena yang kemudian disebut pengetahuan oleh manusia yang dengan pengetahuan tersebut akhirnya manusia mengklaim bahwa dirinya telah menaklukan alam kehidupannya kali ini yang dahulu diawalinya dengan isak tangis dan letupan air mata yang keluar dari kedua bola matanya.
Diterbitkan di: Oktober 07, 2009
Link yang relevan :
* http://www.asep-jamaludin.blogspot.com
Sedulur Kuduh Ngerti, Lan Titi Dalam Ngaji Sejatine Urip Ning Alam Dunyo Oro Pandang Sopo ;Cilik, Gede Lan Tuwo Podo Nguleki Kebeneran Sing Sejati..
Senin, 15 Februari 2010
Serat Centhini - Jilid 1
si Serat Centhini - Jilid 1
oleh : GranatWP
Pengarang : KGPA Anom Amengkunegara III
* Summary rating: 4 stars (3 Tinjauan)
* Kunjungan : 346
* kata:900
*
Cakupan Serat Centhini adalah sangat luas berkaitan budaya Jawa abad ke16-17 ketika kejadian cerita ini berlangsung. Sebagian cerita, istiadat, kepercayaan mungkin sudah tidak ada lagi pada masa ini, tapi sebagian besar masih hidup dikalangan masyarakat Jawa terutama di pedesaan.
Tempat-tempat yang dilalui oleh Jayengresmi, Jayengrana dan Niken Rangcangkapti bisa dijadikan referensi arkeologi karena sebagian besar adalah candi-candi dan peninggalan kerajaan Jawa dimasa lalu. Mungkin candi-candi itu masih ada, mungkin sudah tidak ada, yang pasti gunung-gunung dan desa-desa yang dilewati sebagian besar masih ada sampai saat ini dengan nama yang masih sama.
Contohnya ketika Jayengresmi melihat tulang-tulang besar di gunung Phandan ada kemungkinan tulang-tulang besar ini adalah tulang-tulang binatang purba jaman pra-sejarah. Ketika melewati Dandhangngilo (mungkin sekitar Cepu) ada sumber minyak tanah, kemungkinan tempat ini mengandung sumber minyak mentah.
Sedangkan cerita rakyat yang ada di jilid-1 kemungkinan masih hidup sampai saat ini: Cerita ular Jaka Nginglung asal muasal air asin Kuwu, Cerita Ki Ageng Sela menangkap petir dan papalinya, Cerita Sri – Sadana asal mula ada padi, Cerita tokoh-tokoh pewayangaan yang ada di wayang purwo.
Adat istiadat berkaitan dengan penanggalan Jawa, hari-hari baik/buruk, perhitungan selamatan orang meninggal dll. pada umumnya saat ini sudah dikompilasi menjadi buku Primbon. Banyak kalangan masyarakat Jawa walaupun sudah beragama Kristen atau Islam masih menggunakanya. Bahkan saat ini ada yang menawarkan jasa perhitungan berdasarkan primbon Jawa untuk hal-hal tertentu melalui sms operator tilpun seluler.
Sedangkan adat istiadat yang bersifat khusus seperti pembuatan keris, tombak, ukuran berbagai bagian rumah, dan candrasangkala hanya di pelajari oleh para ahli yang berkecimpung dalam bidang tersebut.
Saat ini masih ada empu pembuat keris, tombak, jenis senjata tajam lainnya. Ahli bangunan pembuatan rumah Joglo. Keduanya sudah ada tehnik dan hitungannya sejak ratusan tahun yang lalu.
Candrasangkala adalah sifat-sifat angka 1 s/d 9. Setiap angka bisa dterjemahkan menjadi kata yang tepat sesuai nilai angka tersebut. Biasanya dibuat untuk merangkai kalimat pendek sesuai kejadian tahun tersebut yang perlu diingat oleh pembuat. Contohnya “Paksa suci sabda ji” adalah tahun 1742 tahun Jawa atau tahun 1814 Masehi yaitu saat Serat Centini ditulis. Kemungkinan Serat Centini ini dibuat atas satu (ji – nilainya 1) perintah (sabda – nilainya 7) secara mendesak (paksa – nilainya 2) dengan maksut baik (suci – nilainya 4). Untuk bisa membuat Candrasangkala harus menguasai sifat kata-kata sesuai nilainya dari 1 s/d 9, cukup rumit. Saat ini mungkin hanya kalangan kraton yang masih menguasai ilmu ini.
Sedangkan pengetahuan sprituil, banyak kajian-kajian atau buku-buku yang diterbitkan berkaitan dengan ilmu-ilmu spirituil yang dibicarakan dalam setiap jilid Serat Centini, dikarenakan masyarakat Jawa senang dengan pembahasan tentang “sangkan paraning dumadi” atau “asal-usul kehidupan” dalam bentuk pembicaran tasauf. Banyak juga Serat berupa tembang yang memberi nasehat agar kita menjalani kehidupan yang berbudi luhur. Yang disebut dalam jilid-1 adalah:
1. Serat Nitisruti adalah karangan Pangeran Karanggayam dari Pajang, yang selesai ditulis pada tahun 1612. Berisi nasehat agar berbudi luhur dan mengambarkan tingkahlaku yang tergolong nista-madya-utama.
2. Waringin Sunsang adalah cerita simbol asal usul kehidupan dan jalan kematian. Pada saat roh yang berasal dari Allah SWT. turun memberi hidup pada manusia adalah mudah, tapi waktu mau kembali lagi sulit seperti beringin yang terbalik - waringin sungsang. Beban perbuatan selama hidup akibat nafsu-nafsu yang mempengaruhi manusia, menjadi hambatan untuk roh kembali ke akar kehidupan yang mengarah keatas. Kecuali dengan usaha yang tidak kenal lelah fokus pada keseimbangan menuju ke akar kehidupan yaitu pengabdian kepada Allah SWT.
3. Empat cara bertapa atau empat cara tirakat (tarekat/laku/tingkah laku):
- Anarima, menerima kasih sayang Allah SWT, menerima apapun yang terjadi sesuai dengan takdir Ilahi.
- Geniira, menghindari diri dari rasa amarah.
- Banyuira, pandai menyesuaikan diri seperti aliran air.
- Ngluwat, memendam semua hal yang membanggakan diri agar tidak menganggap diriya paling benar. Bersikap andap asor.
4. Langit Sapta (Langit Tujuh) adalah tingkatan roh menuju kesempurnaan: roh jasmani, roh nabati, roh napsani, roh rohani, roh nurani, roh rabani, roh kapi.
5. Sifat rong puluh atau sifat dua puluh adalah usaha penghayatan akan Dzat, Sifat, Asma dan Afngal Allah SWT (kemungkinan besar ini adalah sinkretisasi atau adaptasi dari Asma Al-Husna):
a. Napsiyah (Dzat): Wujud (Pasti Adanya)
b. Salbiyah (Sifat): Kidam (Maha Awal), Baka (Maha Abadi), Mukalapah lil kawadis (Maha Luhur), Wal kiyamu binaphisi (Mengadakan Diri Sendiri), Wahdaniyat (Maha Esa).
c. Manganiyah (Asma): Kodrat (Maha Kuasa), Iradat (Maha Pencipta), Ngelmu (Maha Pandai), Kayat (Maha Hidup), Samak (Maha Tahu), Basar (Maha Waspada), Kalam (Maha Wicara),
d. Maknawiyah (Afngal): Kadiran (Yang Maha Menguasai), Muridan (Yang Maha Mencipta), Ngalimun (Yang Maha Menguasai Ilmu), Kayat (Yang Maha Menghidupi), Samingun (Yang Maha Mengetahui), Basiran (Yang Maha Melihat), Muakalimun (Yang Maha Pembicara).
Kesimpulannya pada abad 16 – 17 di pedalaman Jawa banyak para bijak hidup menyepi yang menguasai berbagai disiplin ilmu sebagai kekayaan beragam budaya baik budaya asli yang berumur sangat tua maupun budaya akibat penyebaran agama Hindu, Budha, dan Islam. Satu sama lain hidup berdampingan tanpa saling mengganggu. Barangkali saat ini juga masih begitu kalau kita berbicara masyarakat di pedesaan yang masih lekat dengan budaya masa lalu dan tidak terlalu bersinggungan dengan pengaruh budaya Barat.
Diterbitkan di: Juli 30, 2009
Link yang relevan :
* http://id.wikipedia.org/wiki/Serat_Centhini
oleh : GranatWP
Pengarang : KGPA Anom Amengkunegara III
* Summary rating: 4 stars (3 Tinjauan)
* Kunjungan : 346
* kata:900
*
Cakupan Serat Centhini adalah sangat luas berkaitan budaya Jawa abad ke16-17 ketika kejadian cerita ini berlangsung. Sebagian cerita, istiadat, kepercayaan mungkin sudah tidak ada lagi pada masa ini, tapi sebagian besar masih hidup dikalangan masyarakat Jawa terutama di pedesaan.
Tempat-tempat yang dilalui oleh Jayengresmi, Jayengrana dan Niken Rangcangkapti bisa dijadikan referensi arkeologi karena sebagian besar adalah candi-candi dan peninggalan kerajaan Jawa dimasa lalu. Mungkin candi-candi itu masih ada, mungkin sudah tidak ada, yang pasti gunung-gunung dan desa-desa yang dilewati sebagian besar masih ada sampai saat ini dengan nama yang masih sama.
Contohnya ketika Jayengresmi melihat tulang-tulang besar di gunung Phandan ada kemungkinan tulang-tulang besar ini adalah tulang-tulang binatang purba jaman pra-sejarah. Ketika melewati Dandhangngilo (mungkin sekitar Cepu) ada sumber minyak tanah, kemungkinan tempat ini mengandung sumber minyak mentah.
Sedangkan cerita rakyat yang ada di jilid-1 kemungkinan masih hidup sampai saat ini: Cerita ular Jaka Nginglung asal muasal air asin Kuwu, Cerita Ki Ageng Sela menangkap petir dan papalinya, Cerita Sri – Sadana asal mula ada padi, Cerita tokoh-tokoh pewayangaan yang ada di wayang purwo.
Adat istiadat berkaitan dengan penanggalan Jawa, hari-hari baik/buruk, perhitungan selamatan orang meninggal dll. pada umumnya saat ini sudah dikompilasi menjadi buku Primbon. Banyak kalangan masyarakat Jawa walaupun sudah beragama Kristen atau Islam masih menggunakanya. Bahkan saat ini ada yang menawarkan jasa perhitungan berdasarkan primbon Jawa untuk hal-hal tertentu melalui sms operator tilpun seluler.
Sedangkan adat istiadat yang bersifat khusus seperti pembuatan keris, tombak, ukuran berbagai bagian rumah, dan candrasangkala hanya di pelajari oleh para ahli yang berkecimpung dalam bidang tersebut.
Saat ini masih ada empu pembuat keris, tombak, jenis senjata tajam lainnya. Ahli bangunan pembuatan rumah Joglo. Keduanya sudah ada tehnik dan hitungannya sejak ratusan tahun yang lalu.
Candrasangkala adalah sifat-sifat angka 1 s/d 9. Setiap angka bisa dterjemahkan menjadi kata yang tepat sesuai nilai angka tersebut. Biasanya dibuat untuk merangkai kalimat pendek sesuai kejadian tahun tersebut yang perlu diingat oleh pembuat. Contohnya “Paksa suci sabda ji” adalah tahun 1742 tahun Jawa atau tahun 1814 Masehi yaitu saat Serat Centini ditulis. Kemungkinan Serat Centini ini dibuat atas satu (ji – nilainya 1) perintah (sabda – nilainya 7) secara mendesak (paksa – nilainya 2) dengan maksut baik (suci – nilainya 4). Untuk bisa membuat Candrasangkala harus menguasai sifat kata-kata sesuai nilainya dari 1 s/d 9, cukup rumit. Saat ini mungkin hanya kalangan kraton yang masih menguasai ilmu ini.
Sedangkan pengetahuan sprituil, banyak kajian-kajian atau buku-buku yang diterbitkan berkaitan dengan ilmu-ilmu spirituil yang dibicarakan dalam setiap jilid Serat Centini, dikarenakan masyarakat Jawa senang dengan pembahasan tentang “sangkan paraning dumadi” atau “asal-usul kehidupan” dalam bentuk pembicaran tasauf. Banyak juga Serat berupa tembang yang memberi nasehat agar kita menjalani kehidupan yang berbudi luhur. Yang disebut dalam jilid-1 adalah:
1. Serat Nitisruti adalah karangan Pangeran Karanggayam dari Pajang, yang selesai ditulis pada tahun 1612. Berisi nasehat agar berbudi luhur dan mengambarkan tingkahlaku yang tergolong nista-madya-utama.
2. Waringin Sunsang adalah cerita simbol asal usul kehidupan dan jalan kematian. Pada saat roh yang berasal dari Allah SWT. turun memberi hidup pada manusia adalah mudah, tapi waktu mau kembali lagi sulit seperti beringin yang terbalik - waringin sungsang. Beban perbuatan selama hidup akibat nafsu-nafsu yang mempengaruhi manusia, menjadi hambatan untuk roh kembali ke akar kehidupan yang mengarah keatas. Kecuali dengan usaha yang tidak kenal lelah fokus pada keseimbangan menuju ke akar kehidupan yaitu pengabdian kepada Allah SWT.
3. Empat cara bertapa atau empat cara tirakat (tarekat/laku/tingkah laku):
- Anarima, menerima kasih sayang Allah SWT, menerima apapun yang terjadi sesuai dengan takdir Ilahi.
- Geniira, menghindari diri dari rasa amarah.
- Banyuira, pandai menyesuaikan diri seperti aliran air.
- Ngluwat, memendam semua hal yang membanggakan diri agar tidak menganggap diriya paling benar. Bersikap andap asor.
4. Langit Sapta (Langit Tujuh) adalah tingkatan roh menuju kesempurnaan: roh jasmani, roh nabati, roh napsani, roh rohani, roh nurani, roh rabani, roh kapi.
5. Sifat rong puluh atau sifat dua puluh adalah usaha penghayatan akan Dzat, Sifat, Asma dan Afngal Allah SWT (kemungkinan besar ini adalah sinkretisasi atau adaptasi dari Asma Al-Husna):
a. Napsiyah (Dzat): Wujud (Pasti Adanya)
b. Salbiyah (Sifat): Kidam (Maha Awal), Baka (Maha Abadi), Mukalapah lil kawadis (Maha Luhur), Wal kiyamu binaphisi (Mengadakan Diri Sendiri), Wahdaniyat (Maha Esa).
c. Manganiyah (Asma): Kodrat (Maha Kuasa), Iradat (Maha Pencipta), Ngelmu (Maha Pandai), Kayat (Maha Hidup), Samak (Maha Tahu), Basar (Maha Waspada), Kalam (Maha Wicara),
d. Maknawiyah (Afngal): Kadiran (Yang Maha Menguasai), Muridan (Yang Maha Mencipta), Ngalimun (Yang Maha Menguasai Ilmu), Kayat (Yang Maha Menghidupi), Samingun (Yang Maha Mengetahui), Basiran (Yang Maha Melihat), Muakalimun (Yang Maha Pembicara).
Kesimpulannya pada abad 16 – 17 di pedalaman Jawa banyak para bijak hidup menyepi yang menguasai berbagai disiplin ilmu sebagai kekayaan beragam budaya baik budaya asli yang berumur sangat tua maupun budaya akibat penyebaran agama Hindu, Budha, dan Islam. Satu sama lain hidup berdampingan tanpa saling mengganggu. Barangkali saat ini juga masih begitu kalau kita berbicara masyarakat di pedesaan yang masih lekat dengan budaya masa lalu dan tidak terlalu bersinggungan dengan pengaruh budaya Barat.
Diterbitkan di: Juli 30, 2009
Link yang relevan :
* http://id.wikipedia.org/wiki/Serat_Centhini
(seks untuk membuka surga kecil/surga terendah)
Serat SAMORO GOMO (seks untuk membuka surga kecil/surga terendah)
oleh : panjiasmoro
HASRAT SUDAH sampai dipuncak saat semua PENUTUP TUBUHMU satu persatu telah terlepas dari tempatmu, akan tetapi dengan bermodal hasrat ternyata tidak akan menuntun dalam kenyataan kenikmatan, kemana akan dicari semua hasrat akan ketumu kenyataan....yang ternyata semua itu hanyalah asa belaka, dalam keputus asaanku ini aku menemukan GURU SEJATIKU yang mengajarkan apa artinya hasrat yang membara dan membakar tetapi hanya merusak luar dan dalam ASMOROku....DIA GURU SEJATIKU penuh kasih sayang dalam mengajarkan ILMU SEJATI dalam sanubariku...yang seakan telah lama sekali aku mengenalnya tetapi aku tidak memahaminya,ilmunya penuh dengan rangkaian MISTERI YANG TERKUNCI bila dikabarkan pada orang yang NAFSUNYA HANYA MERUSAK, malam itu setelah aku mendapatkan pencerahan dari GURU SEJATI tentang ILMU SERAT ASMORO GOMO, hasratku keni penuh dengan kesempurnaan JIWA dan RAGA kulakukan apapun yang telah diajarkan.....aku tidak tergesa-gesa dalam membuka karena kalu telah dibuka apa yang akan kita harapkan...TERNYATA HANYA KUBANG GOMO belaka, aku biarkan semua tertutup karena aku tidak akan memaksa dalam bercinta, tapi kini dengan SERAT ASMORO GOMO yang aku kuasai dia membuka semuanya dengan pelan tidak dari bawah tapi ternyata dari atas, kulihat DUA KENDI TIRTA KAMANDANU telah keluar dari sarangnya yang menarik aku begitu kuat untuk menghisapnya tanpa henti, aku tetap bertahan, penutup berikutnya yang kulihat PUSAR KERAMAT yang begitu dalam di permukaan perutnya, penutup berikutnya LUBANG GOMO yang menyeruak dalam lebatnya BULU ASMORO yang begitu pekat dan gelap, tanpa dipandangpun laki-laki manapun akan tahu apa maumu LUBANG ASMORO GOMO..... dari sinilah muncul kehidupan baru yang SUCI dari ASAL YANG PENUH MESTEI....
Diterbitkan di: Nopember 09, 2009
oleh : panjiasmoro
HASRAT SUDAH sampai dipuncak saat semua PENUTUP TUBUHMU satu persatu telah terlepas dari tempatmu, akan tetapi dengan bermodal hasrat ternyata tidak akan menuntun dalam kenyataan kenikmatan, kemana akan dicari semua hasrat akan ketumu kenyataan....yang ternyata semua itu hanyalah asa belaka, dalam keputus asaanku ini aku menemukan GURU SEJATIKU yang mengajarkan apa artinya hasrat yang membara dan membakar tetapi hanya merusak luar dan dalam ASMOROku....DIA GURU SEJATIKU penuh kasih sayang dalam mengajarkan ILMU SEJATI dalam sanubariku...yang seakan telah lama sekali aku mengenalnya tetapi aku tidak memahaminya,ilmunya penuh dengan rangkaian MISTERI YANG TERKUNCI bila dikabarkan pada orang yang NAFSUNYA HANYA MERUSAK, malam itu setelah aku mendapatkan pencerahan dari GURU SEJATI tentang ILMU SERAT ASMORO GOMO, hasratku keni penuh dengan kesempurnaan JIWA dan RAGA kulakukan apapun yang telah diajarkan.....aku tidak tergesa-gesa dalam membuka karena kalu telah dibuka apa yang akan kita harapkan...TERNYATA HANYA KUBANG GOMO belaka, aku biarkan semua tertutup karena aku tidak akan memaksa dalam bercinta, tapi kini dengan SERAT ASMORO GOMO yang aku kuasai dia membuka semuanya dengan pelan tidak dari bawah tapi ternyata dari atas, kulihat DUA KENDI TIRTA KAMANDANU telah keluar dari sarangnya yang menarik aku begitu kuat untuk menghisapnya tanpa henti, aku tetap bertahan, penutup berikutnya yang kulihat PUSAR KERAMAT yang begitu dalam di permukaan perutnya, penutup berikutnya LUBANG GOMO yang menyeruak dalam lebatnya BULU ASMORO yang begitu pekat dan gelap, tanpa dipandangpun laki-laki manapun akan tahu apa maumu LUBANG ASMORO GOMO..... dari sinilah muncul kehidupan baru yang SUCI dari ASAL YANG PENUH MESTEI....
Diterbitkan di: Nopember 09, 2009
Serat SAMORO GOMO Jilid II (Keabadian Mengakar Jiwa Yang Sempurna)
Serat SAMORO GOMO Jilid II (Keabadian Mengakar Jiwa Yang Sempurna)
oleh : panjiasmoro
Ada banyak orang menganggap bentuk dan kekekaran tubuh mencerminkan KEKUATAN MANUSIA, tetapi untuk menjalankan kewajiban mendatangai SURGA KECIL ternya tadia hanyalah seorang dewasa yang memiliki kekuatan seperti bayi yang baru lahir yang hanya bisa meraba raba tanpa tau apa yang sebenarnya dia inginkan......ada sebuah RAHASIA KEKUATAN SEJATI yang sebenarnya tidak perlu bersusah sudah dalam mengalirkan ENERGI SEJATI untuk menggetarkan HASRAT BIRAHI seorang wanita untuk mencapai PUNCAK SAMORO GOMO atau ASMORO GOMOtanpa harus berbasah dan berenang dalam lautan keringat dingin.......tetapi dengan hanya sentuhan-sentuhan kecil tetapi telah menbawa GETARAN SAMPAI KE PUSAR PERUT yang rasanya selama 100 hari tetaplah terasa sampai pada tulang sumsumnya......untuk bisa menguasai MISTERI ILMU SAMORO atau ASMORO GOMO JILID II ini, mulailah dengan menguasai materi NAFAS PEMBERSIH...... adapun tehnik-tehnik melakukannya adalah sebagai berikut :
1. Sikap duduk dengan posisi sumbu tulang belakang benar-benar tegak lurus, dengan kepala sedikit mendongak keatas biar lebih melonggarkan aliran nafas kita.
2. Persiapan padangan kita pada satu titik padangan, lanjutkan padanganan ke ujung hidung, lanjutkan dengan terpejam rileks dan aturan NAFAS HISAP LEWAT HIDUNG, KELUARKAN LEWAT HIDUNG RILEKS.
3. Posisi tangan ada di atas lutut bersila kita, lanjutkan dengan posisi gerakkan tangan dari bawah bersamaan ke atas bertemu di atas kepala dengan diiringai hisapan nafas lewat hidung.
4. Tangan turunkan ke depan dada posisi BUNGA TERATAI KUNCUP....dan nafas ditahan di dada rileks sampai dengan hitungan sepuluh detik.
5. Setelah itu tidak mampu tau hitungan ke 10 detik buang nafas lewat hidung rilaks, bersamaan dengan gerakkan kedua tangan dari depan dada menjulur lurus ke depan lalu tarik kesamping lurus.
6. Kembali ke posisi semula ke dua tangan di atas dua lutut kaki kita , mulailah lagi gerakkan dan nafas seperti petunjuk diatas serta ulangi tiap hari kurang lebih 15 kali dalam sehari.
Demikianlah apa yang menjadi laku dalam kehidupan berpasangan manusia SERAT SAMORO GOMO / SERAT ASMORO GOMO jilid II.......dan masih banyak lagi laku-laku pernafasan dan meditasi dalam menuntun manusia untuk mencapai HASRATASMORO yang SEJATI.
Diterbitkan di: Nopember 24, 2009
oleh : panjiasmoro
Ada banyak orang menganggap bentuk dan kekekaran tubuh mencerminkan KEKUATAN MANUSIA, tetapi untuk menjalankan kewajiban mendatangai SURGA KECIL ternya tadia hanyalah seorang dewasa yang memiliki kekuatan seperti bayi yang baru lahir yang hanya bisa meraba raba tanpa tau apa yang sebenarnya dia inginkan......ada sebuah RAHASIA KEKUATAN SEJATI yang sebenarnya tidak perlu bersusah sudah dalam mengalirkan ENERGI SEJATI untuk menggetarkan HASRAT BIRAHI seorang wanita untuk mencapai PUNCAK SAMORO GOMO atau ASMORO GOMOtanpa harus berbasah dan berenang dalam lautan keringat dingin.......tetapi dengan hanya sentuhan-sentuhan kecil tetapi telah menbawa GETARAN SAMPAI KE PUSAR PERUT yang rasanya selama 100 hari tetaplah terasa sampai pada tulang sumsumnya......untuk bisa menguasai MISTERI ILMU SAMORO atau ASMORO GOMO JILID II ini, mulailah dengan menguasai materi NAFAS PEMBERSIH...... adapun tehnik-tehnik melakukannya adalah sebagai berikut :
1. Sikap duduk dengan posisi sumbu tulang belakang benar-benar tegak lurus, dengan kepala sedikit mendongak keatas biar lebih melonggarkan aliran nafas kita.
2. Persiapan padangan kita pada satu titik padangan, lanjutkan padanganan ke ujung hidung, lanjutkan dengan terpejam rileks dan aturan NAFAS HISAP LEWAT HIDUNG, KELUARKAN LEWAT HIDUNG RILEKS.
3. Posisi tangan ada di atas lutut bersila kita, lanjutkan dengan posisi gerakkan tangan dari bawah bersamaan ke atas bertemu di atas kepala dengan diiringai hisapan nafas lewat hidung.
4. Tangan turunkan ke depan dada posisi BUNGA TERATAI KUNCUP....dan nafas ditahan di dada rileks sampai dengan hitungan sepuluh detik.
5. Setelah itu tidak mampu tau hitungan ke 10 detik buang nafas lewat hidung rilaks, bersamaan dengan gerakkan kedua tangan dari depan dada menjulur lurus ke depan lalu tarik kesamping lurus.
6. Kembali ke posisi semula ke dua tangan di atas dua lutut kaki kita , mulailah lagi gerakkan dan nafas seperti petunjuk diatas serta ulangi tiap hari kurang lebih 15 kali dalam sehari.
Demikianlah apa yang menjadi laku dalam kehidupan berpasangan manusia SERAT SAMORO GOMO / SERAT ASMORO GOMO jilid II.......dan masih banyak lagi laku-laku pernafasan dan meditasi dalam menuntun manusia untuk mencapai HASRATASMORO yang SEJATI.
Diterbitkan di: Nopember 24, 2009
Sabtu, 02 Januari 2010
Kaukus Parlemen Pancasila Desakkan Gelar Pahlawan bagi Gus Dur
Warta
Kaukus Parlemen Pancasila Desakkan
Gelar Pahlawan bagi Gus Dur
Jakarta, NU Online 01/01/2010.
Kaukus
Parlemen Pancasila yang dimotori Rike Diah Pitaloka dan Eva KS dari PDI
Perjuangan, Bambang Soesetyo dari Fraksi Golkar, Romy dari PPP, Muzani dari
Partai Gerindra, dan Akbar Faisal dari Hanura mengusulkan kepada DPR dan
pemerintah untuk memberikan gelar pahlawan nasional kepada KH Abdurrahman Wahid
(Gus Dur).
"Selayaknya
DPR mengusuklkan dan pemrintah memberikan gelar pahlawan nasional kepada Gus
Dur. Mengingat kinerja almarhum Gus Dur dan keberlangsungan ide-ide
kebhinnekaan untuk memperkuat NKRI," kata Rieke di Jakarta, Jum'at (1/1).
Menurut Rieke
yang mewakili Kaukus Parlemen Pancasila, sosok Gus Dur adalah putra terbaik dan
tokoh dunia berdasarkan pemikiran-pemikiran dan tindakannya yang mencerminkan
kepentingan semua umat secara universal.
"Berpulangnya
Gus Dur mendapat simpati seluruh penjuru dunia dan tidak terbatas warha
Indonesia maupun warga nahdliyin saja. Gus Dur mendapat simpati seluruh lapisan
masyarakat serta melintasi batas negara dan sentimen-sentimen primordial
berbasis apapun," paparnya.
Tidak heran
kalau Kaukus Parlemen Pancasila mendesak pemintah agar memberikan gelar
pahlawan kepada Gus Dur. (sam/ant)
Kamis, 31 Desember 2009
Demokrasi, Islam, Indonesia:
Dari Socrates sampai Gus Dur
Yudhistira ANM Massardi
ISLAM dan demokrasi – apakah bagaikan bumi dan langit?
Islam adalah agama langit, yang diwahyukan Tuhan kepada Nabi Muhammad Saw, melalui Al-Qur'an (vox Dei, suara Tuhan, bukan vox populi, suara umat), dan harus diimani sebagai rahmat bagi seluruh alam semesta. Secara vertikal/teologis, ia bersifat dogmatis, tapi secara horizontal/sosial bersifat lentur, dan terbuka ruang ijtihad bagi para ahli.
Demokrasi adalah hasil akal budi manusia di bumi yang, pertama-tama, bersandar pada asas vox populi vox Dei. Merupakan sebuah bentuk/sistem pengelolaan pemerintahan yang pertama kali dikembangkan di negara kota Athena zaman Pericles di abad kelima dan keempat Sebelum Masehi.
Demokrasi merupakan wacana terbuka dan terus berkembang. Bahkan, di tahap awal, dikritik sendiri oleh "bapak" sekaligus "korban"-nya yang pertama, Socrates: "Demokrasi, yang merupakan bentuk pemerintahan yang menggairahkan, penuh dengan variasi dan kekacauan, ...dan hasratnya yang tak bisa dikenyangkan bisa membawa kepada kehancuran."
Dalam perkembangan berbilang abad, demokrasi diperkaya oleh Magna Carta (1215): membatasi dan membagikan hak-hak kaum feodal kepada rakyat; John Locke (1690): semua pemerintahan harus konstitusional dan mendapatkan persetujuan dari yang diperintah; Montesquieu (1748): pemisahan kekuasaan eksekutif, legislatif dan yudikatif; Deklarasi Hak Manusia dan Warga Negara Prancis (liberte, egalite, fraternite), serta Bill of Rights Amerika (1789): kebebasan berbicara, berserikat, berekspresi, dan seterusnya.
Tetapi, belakangan, demokrasi diklaim dan dipromosikan ke seluruh dunia sebagai "American Idea" – dalam gerbong-gerbong kapitalisme, liberalisme, dan sekularisme – dan akhirnya berbenturan dengan fasisme, komunisme, dan belakangan ini mengobarkan "perang peradaban" dengan... Islam!
Demokrasi akhirnya memang terbaca sebagai: "Amerika/Barat/
Dari Socrates sampai Gus Dur
Yudhistira ANM Massardi
ISLAM dan demokrasi – apakah bagaikan bumi dan langit?
Islam adalah agama langit, yang diwahyukan Tuhan kepada Nabi Muhammad Saw, melalui Al-Qur'an (vox Dei, suara Tuhan, bukan vox populi, suara umat), dan harus diimani sebagai rahmat bagi seluruh alam semesta. Secara vertikal/teologis, ia bersifat dogmatis, tapi secara horizontal/sosial bersifat lentur, dan terbuka ruang ijtihad bagi para ahli.
Demokrasi adalah hasil akal budi manusia di bumi yang, pertama-tama, bersandar pada asas vox populi vox Dei. Merupakan sebuah bentuk/sistem pengelolaan pemerintahan yang pertama kali dikembangkan di negara kota Athena zaman Pericles di abad kelima dan keempat Sebelum Masehi.
Demokrasi merupakan wacana terbuka dan terus berkembang. Bahkan, di tahap awal, dikritik sendiri oleh "bapak" sekaligus "korban"-nya yang pertama, Socrates: "Demokrasi, yang merupakan bentuk pemerintahan yang menggairahkan, penuh dengan variasi dan kekacauan, ...dan hasratnya yang tak bisa dikenyangkan bisa membawa kepada kehancuran."
Dalam perkembangan berbilang abad, demokrasi diperkaya oleh Magna Carta (1215): membatasi dan membagikan hak-hak kaum feodal kepada rakyat; John Locke (1690): semua pemerintahan harus konstitusional dan mendapatkan persetujuan dari yang diperintah; Montesquieu (1748): pemisahan kekuasaan eksekutif, legislatif dan yudikatif; Deklarasi Hak Manusia dan Warga Negara Prancis (liberte, egalite, fraternite), serta Bill of Rights Amerika (1789): kebebasan berbicara, berserikat, berekspresi, dan seterusnya.
Tetapi, belakangan, demokrasi diklaim dan dipromosikan ke seluruh dunia sebagai "American Idea" – dalam gerbong-gerbong kapitalisme, liberalisme, dan sekularisme – dan akhirnya berbenturan dengan fasisme, komunisme, dan belakangan ini mengobarkan "perang peradaban" dengan... Islam!
Demokrasi akhirnya memang terbaca sebagai: "Amerika/Barat/
Dalam konteks holistik, itu menegaskan kembali kontras fundamental "awal kejadian"-nya: Islam yang merupakan vox Dei berhadapan dengan demokrasi yang mengagungkan vox populi. Daulat Tuhan vis a vis daulat umat.
Sesungguhnya, asas-asas demokrasi dalam formatnya yang awal (sampai Bill of Rights) juga merupakan nilai-nilai utama di dalam Islam – sebagiannya tercermin dengan indah di dalam silaturahim Idul Fitri, ritual solat dan haji. Tetapi, Islam selalu dipersepsi sebagai "antidemokrasi" melalui contoh-contoh yang ekstrem: kaum perempuannya dieksploitasi dan ditindas (poligami dan jilbab), ketidakadilan (hak waris), memiliki hukum yang kejam (potong tangan, rajam, pancung), tidak toleran (melarang perkawinan antaragama; yang meninggalkan agama Islam wajib dibunuh; nonmuslim dianggap kafir), haus darah/teroris (jihad).
Dalam konteks Indonesia, negara dengan populasi pemeluk Islam terbesar di dunia, semua ketegangan tadi relatif hanya muncul di ruang-ruang "terbatas." Pertanyaan-pertanya
Khususnya di Jawa dengan tradisi agraris/pedalaman yang kuat, ada kelenturan luar biasa dalam beradaptasi dengan kebudayaan dari luar. Animisme menyerap Hinduisme/Buddhisme tanpa konflik, bahkan melahirkan sinkretisme. Kedatangan Islam diterima baik dan melahirkan format asimilasi yang unik: Kejawen. Begitu juga ketika modernisme/Barat/
Perdebatan yang gaduh justeru terjadi tatkala ada upaya pemilahan dan pemihakan atas konsep Barat-Timur (Polemik Kebudayaan), Islam tradisionalis-
Proses akulturasi dan asimilasi yang panjang itu akhirnya memberikan jawaban unik atas pertanyaan tadi. Sebuah jawaban yang indah dan khas Indonesia: "Seorang Indonesia bisa menjadi seorang muslim sekaligus demokrat, dan sekuler." Itu menggumpal dalam sosok-sosok historikal: Tjokroaminoto, Soekarno, Hatta, Ahmad Dahlan, dan profil-profil kontemporer seperti Abdurrahman Wahid, Nurcholish Madjid, Amien Rais, Akbar Tandjung... Pemilu sebagai perwujudan vox populi pun berlangsung aman dan damai.
Jadi, dialektika antara demokrasi, Islam dan Indonesia berlangsung "fine, fine saja dan cool," meskipun sempat diklaim telah memakan "korban" pula, yakni salah seorang pejuangnya yang paling gigih: Gus "Socrates" Dur! []
* Mukadimah untuk buku Hajatan Demokrasi (Gatra, 2006).
Sumber http://kabarnyaindonesia.blogspot.com
Langganan:
Postingan (Atom)