Kamis, 04 Maret 2010

Taswžr al fannž fil qur'n"


Sayyid Qutb lahir pada tahun 9 Oktober 1906 M dari rahim seorang ibu sederhana di desa Musyah di Propinsi Asy Syuth. Beliau adalah anak kedua dari empat bersaudara. Anak tertua seorang perempuan, Hamidah Qutb. Muhammad Qutb anak ketiga dan yang terakhir Aminah Qutb. Sejak kecil mereka telah dikenalkan dengan lingkungan islami dan dibesarkan dengan didikan islami. Fatimah sang ibu menjaga pergaulan anak- anaknya dari lingkungan jahiliah. Tidak heran kalau dari keluarga ini kemudian lahir para penulis Islam yang handal. Keempatnya pernah membuat satu bunga rampai yang diberi judul "Al Aty'f al Arba'ah".

Sebelum genap berusia 10 tahun Sayyid Qutb telah menghafal Alquran sebagaimana harapan ibunya. Dalam bukunya "Taswžr al fannž fil qur'n" ia mengatakan, "Harapan ibu yang paling besar terhadapku adalah agar Allah berkenan membuka hatiku, hingga aku bisa menghafal Alquran dan membacanya di hadapan ibu dengan baik. Sekarang saya telah hafal Alquran dengan demikian saya telah menunaikan sebagian harapan ibu". Pada tahun 1918 ia menamatkan pendidikan dasarnya di Musya. Tahun 1920 ia kemudian merantau ke Kairo dan tinggal bersama pamannya untuk meneruskan sekolah ke jenjang menengah di madrasah Abdul Aziz (sekolah guru menengah). Lima tahun setelah itu ia melanjutkan pendidikan ke jenjang menengah atas di madrasah persiapan Darul Ulum. Kemudian pada tahun 1929 Sayyid Qutb terdaftar sebagai mahasiswa di fakultas adab universitas Darul Ulum Kairo dan tamat pada tahun 1933.
Setelah lulus Sayyid Qutb dilantik oleh departemen pendidikan menjadi guru di madrasah D'wudiyah. Kemudian dipindah ke madrasah Dimyat pada tahun 1935 . Pada tahun 1936 dipindah lagi ke Helwan. Sejak tahun 1940 sampai 1945 ia ditarik dari dunia pengajaran dan diperbantukan di Kantor departemen pendidikan. Pada tahun 1948 mendapat kepercayaan menjadi utusan departemen pendidikan Mesir ke Amerika. Selama dua tahun ia bermukim di Amerika untuk mempelajari metode pengajaran di Amerika sebagai studi banding dengan sistem pendidikan di Mesir. Tepatnya pada 20 Agustus 1950 Sayyid Qutb kembali ke Mesir dan diperbantukan menjadi pengawas di tehnikal riset departemen pendidikan Mesir. Tahun 1952 Sayyid Qutb mengundurkan diri dari tugas kepegawaian dan mulai berkecimpung di dunia pers.
Menginjak usia 45 tahun, Sayyid Qutb mulai bergabung dengan gerakan Ikhwanul Muslimin dan pada tahun 1954 ia dipercaya menjadi pemimpin redaksi majalah resmi Ikhwanul muslimin. Di tahun yang sama ia ditangkap bersama beberapa pemimpin Ikhwanul muslimin dan mendekam di penjara selama dua bulan. Belum cukup beristirahat, Sayyid Qutb kembali ditangkap juga di tahun 1954 dengan tuduhan terlibat usaha pembunuhan terhadap presiden yang berkuasa, Jamal Abdul Naser. Dalam persidangan militer yang dipimpin oleh jamal Salim dan beranggotakan Anwar Sadat dan Husein Syafi'i, Sayyid Qutb dijatuhi hukuman 15 tahun penjara. Melalui permohonan presiden Irak ketika itu, Abdussalam Arif, Sayyid Qutb mendapat pemotongan masa hukuman dan dikeluarkan dari penjara pada tahun 1964.
Pada tanggal 9 Agustus 1965 untuk ketiga kalinya Sayyid Qutb kembali ditahan dengan tuduhan merencanakan kudeta untuk menggulingkan pemerintah dan usaha pembunuhan presiden. Melalui sidang militer yang dipimpin oleh Fuad ad Dajwa, tanggal 12 Agustus 1965 dijatuhkan hukuman mati buat Sayyid Qutb yang pelaksanaannya dijadwalkan tanggal 21 Agustus 1966.
Mengetahui putusan hakim, banyak pihak yang bersimpati kepada Sayyid Qutb dan mengirimkan surat permohonan kepada Jamal Abdul Nasser untuk memberikan grasi bagi Sayyid Qutb. Bahkan di Pakistan terjadi demo besar-besaran. Demo ini digerakkan oleh berbagai organisasi Islam meminta Abdul Naser mencabut kembali tuduhan buat Sayyid Qutb dan membebaskannya dari hukuman mati. Para pemimpin negara pun tidak ketinggalan. Di antaranya Raja Faisal dari Saudi Arabia mengirim surat permohonan pembebasan Sayyid Qutb. Pada tanggal 28 Agustus 1965 surat permohonan dari raja Faisal sampai ke tangan pembantu presiden Jamal Abdul Nasser, Sami Syarf. Ketika akan diberikan Jamal Abdul Nasser menolak kemudian menginstruksikan kepada Sami Syarf, "Pancunglah ia di waktu Subuh, baru kemudian engkau berikan surat itu kepadaku".
Di pagi dinihari tepatnya tanggal 29 Agustus 1966, Sayyid Qutb dipancung di penjara militer. Presiden Jamal Abdul Naser kemudian mengirimkan surat permohonan maaf ke raja Faisal dan mengabarkan bahwa surat sang raja sampai ke tangannya setelah pelaksanaan hukuman.
Sayyid Qutb Seorang Sastrawan
Sejak kecil Sayyid Qutb telah tertarik dengan dunia sastra. Kecenderungan sastra semakin tumbuh ketika ia dikenalkan oleh beberapa penduduk desa yang belajar di Kairo dengan beberapa penyair terkenal Mesir. Nama- nama penyair seperti Ahmad Syauqi, Hafidz Ibrahim telah menghias pikirannya. Kecenderungan ini sempat dibaca oleh Kepala sekolah tempat Sayyid Qutb belajar. Beberapa bait syair Tsabit Jarjawi sering diberikan kepala sekolah kepada Sayyid Qutb untuk dihapal.
Dalam bukunya Taswžr al fannž fi al Qur'n, Ia menceritakan ketika selesai dari pendidikan dasar Sayyid Qutb tidak langsung melanjutkan ke jenjang berikutnya. Waktu itu ia baru berumur 10 tahun. Sementara syarat diterima di pendidikan menengah (Madrasah Abdul Azis) harus berusia 15 tahun. untuk bekerja membantu bapaknya bekerja di sawa
Berarti harus menunggu selama lima tahun... Dalam masa penantian, Sayyiq Qutb mengisi waktu luangnya dengan membaca buku. Karena ukuran badannya yang tergolong kecil ia tidak kuat untuk bekerja membantu bapaknya bekerja di sawah seperti kebanyakan anak desa. Berbagai buku dilahap Sayyid Qutb mulai dari kisah-kisah kepahlawanan sampai buku- buku agama. Bahkan ia mempunyai perpustakaan pribadi di rumahnya. Karena gemar membaca Sayyid Qutb disegani oleh masyarakat desanya yang tergolong masyarakat menengah ke bawah dan buta huruf.
Ketika mendapat kesempatan untuk melanjutkan pendidikan di Kairo tidak disia-siakan olehnya. Hidup dan belajar di Kairo adalah kesempatan emas buat Sayyid Qutb. Karena ia dapat langsung berhubungan dengan para penyair besar Mesir. Selama hidup di Mesir ia mulai mengasah bakatnya di bidang sastra. Ia begitu intens mengikuti berbagai kajian sastra.
Pada awalnya Sayyid Qutb sangat tertarik dengan aliran sastra yang dibawa oleh Abbas mahmud al Aqqad. Sejak tahun 1923 Sayyid Qutb begitu intens menghadiri muhadarah Abbas Mahmud al Aqqad di setiap tempat dan menjadikannya sebagai guru sastra. Setidaknya ada dua alasan kenapa Sayyid Qutb tertarik kepada Abbas Mahmud al Aqqad.
Pertama: Sayyid Qutb termasuk warga kelas menengah ke bawah dari segi ekonomi. Pada waktu itu Mesir tergolong negara miskin. Kesempatan belajar di sekolah-sekolah favorit hanya milik orang kaya. Orang miskin tidak punya banyak kesempatan untuk menimba ilmu kalau tidak memiliki indeks prestasi yang tinggi. Sebagai anak desa Sayyid Qutb juga mengalami hal yang sama. Kesulitan hidup di Kairo membawa pengaruh kepada pola pikirannya. Namun ia tidak menyerah dengan keadaan tapi malah berontak dengan lingkungan. Ia mengkritisi tatanan sosial masyarakatnya. Untuk itu ia sangat mengidolakan sastrawan yang sejalan dengan pola pikirnya. Dan hal itu ia dapati dalam sosok Abbas Mahmud al Aqqad.
Kedua: Abbas Mahmud Al Aqqad adalah termasuk pembaharu dalam bidang sastra pada zamannya. Kelebihan Abbas al Aqqad dibanding sastrawan lain di zamannya adalah ia mampu membaca karya-karya sastra penulis barat. Waktu itu termasuk aib bagi seorang penulis bila tidak menguasai bahasa asing. Dalam tulisan-tulisannya Abbas al Aqqad sering mengkritisi pola hidup masyarakat Mesir dan membandingkannya dengan masyarakat Barat. Ia banyak mengadopsi budaya barat sebagai masyarakat percontohan. Kekayaan informasi di samping penguasaan bahasa asing yang dimiliki Abbas Mahmud al Aqqad membuat Sayyid Qutb mengaguminya. Ia memandang Abbas Mahmud al Aqqad sebagai sastrawan yang membawa nafas baru bagi masyarakat Mesir. Bila ia berjalan sesuai dengan aliran yang dibawa Abbas Mahmud al Aqqad maka ia akan mampu merubah tatanan sosial masyarakat.
Berdasarkan dua alasan di atas terjalin hubungan akrab antara Sayyid Qutb dan Abbas Mahmud al Aqqad. Hubungan antara guru dan murid. Aliran sastranya banyak meniru gurunya. Seperti Abbas Mahmud al Aqqad karya- karya Sayyid Qutb baik yang berbentuk syair, prosa maupun karya ilmiah bersifat kritik sosial. Tulisan-tulisannya sering dimuat di berbagai media cetak Mesir seperti al Ahr'm, Ar Ris'lah, Ats Tsaq'fah. Ia juga menerbitkan dua majalah, al Aalam al Arabi dan al Fikr a; Jadeed sebagai wadah mengasah kemampuan jurnalistiknya. Disamping ia juga bergabung bersama gurunya di partai wafd sebagai corong sosialis di Mesir.Dengan tetap istiqamah dalam aliran Abbas Mahmud al Aqqad di setiap tulisannya membuat Sayyid Qutb dekat dengan Toha Husein ketika ia menjadi pegawai di departemen pendidikan Mesir. Kebetulan Toha Husein menjadi penasehat Kementrian Pendidikan ketika itu. Karena nasehat dari Toha Husein yang membuat Sayyid Qutb mengurungkan niat untuk mengundurkan diri dari tugas kepegawaian. Sebagai ucapan terima kasih Sayyid Qutb menghadiahkan karyanya Tifl min al qoryah kepada Toha Husein.
Ketika tahun 1945 terjadi perubahan dalam diri Sayyid Qutb. Aliran Abbas al Aqqad yang sebelumnya mendominasi dalam setiap karyanya tidak lagi terasa. Ada nuansa islami yang mulai menguat. Gejala ini dimulai dari bukunya "taswiir al fanni fi al Quran" yang diterbitkan pada tahun 1945. Pada bab pendahuluan ia memulai dengan tulisan "laqad wajadtu al Qur'n" (Sungguh aku telah menemukan al Quran). Seakan-akan ia kembali menemukan mutiara yang telah hilang selama bertahun-tahun.
Perubahan ini semakin mengkristal dalam dirinya ketika berada di Amerika dalam rangka studi banding sebagai utusan departemen pendidikan Mesir ( 1948-1950 ). Hidup di tengah- tengah lingkungan kapitalis merupakan hal baru bagi dirinya. Sebab di Mesir Sayyid Qutb terpola dengan pemikiran gurunya yang sosialis. Budaya santai masyarakat Mesir dipaksa untuk dicabut dari dirinya melihat pola kerja masyarakat Amerika yang serba profesional. Dalam sebuah makalahnya yang ditulis dari Amerika, Sayyid Qutb mengatakan, "Sesungguhnya aku yang meyakini kekuatan kalimat kini aku merasa bahwa kita di Mesir khususnya atau masyarakat Timur pada umumnya selama ini lebih banyak teori tanpa praktek nyata. Sekarang tiba waktunya bagi kita untuk membuat sesuatu selain teori belaka."
Namun kehidupan yang menghambakan materi bukan membuat Sayyid Qutb luntur dan berbaur dengan lingkungan dan pola pikir masyarakat Amerika. Tapi semangat keislamannya semakin tumbuh. Diiringi daya kritisnya yang semakin tajam. Dalam beberapa makalah yang ditulis dari Amerika Sayyid Qutb justru mencela budaya Amerika. Sekalipun semua fasilitas tersedia, hidup serba ada justru rakyat Amerika stres.
Rutinitas harian membuat mereka jenuh. Sehingga menjerumuskan mereka dalam budaya seks bebas, tindakan kriminal sebagai obat stress dan rasa jenuh.
Sayyid Qutb dan Ikhwanul Muslimin
Abdul Baqi Muhammad Husein dalam bukunya "Min a'l'm al harokah al Isl'miyah al mu''shiroh mengatakan suatu saat ketika Sayyid Qutb berada di Amerika ia heran melihat melihat masyarakat Amerika bergembira karena meninggalnya Hasan al Bana. Ketika ditanya sebab kegembiraan tersebut mereka menjawab "Bahaya laten bagi Barat dan Amerika telah terbunuh di Mesir yaitu Hasan al Bana pendiri gerakan Ikhwanul Muslimin".
Sayyid Qutb takjub akan kebesaran nama Hasan al Bana di Amerika sementara ia yang orang Mesir asli tidak begitu banyak tahu. Akhirnya ia memutuskan untuk merubah haluan hidup dan bergabung dengan gerakan ikhwanul muslimin setelah selesai masa tugas di Amerika. Resminya di tahun 1953 ia menjadi anggota resmi Ikhwanul Muslimin. Dengan bekal semangat keislaman ditambah pengetahuan baru yang didapat dari Amerika menjadikan Sayyid Qutb mencapai masa keemasannya di bidang sastra. Melalui majalah ikhwanul muslimin ia banyak menulis karya dengan aliran baru yang diyakininya. Terlepas dari aliran Abbas Mahmud al Aqqad. Kritik- kritik sastranya yang terkenal dengan istilah "Nadzriah as suwar wa adz dzilal" yang tergolong fenomena baru di dunia sastra. Bukan itu saja sejak tahun 1947 berbagai buku yang sarat dengan nilai Islam lahir dari sentuhan penanya. Puncaknya ia berhasil menciptakan tafsir "Fi adz dzil'l al Qur'n" sebagai karya monumental di bidang tafsir.
Sejak bergabung dengan Ikhwanul Muslimin karya- karyanya menitik beratkan ke dalam beberapa hal:
Pertama: Kebutuhan manusia akan aqidah islami yang murni yang langsung bersumber dari al Quran dan as Sunnah. Ia mengajak masyarakat memahami aqidah secara universal tanpa ada batasan-batasan geografis yang melingkupinya. Sayyid Qutb meyakini dengan berpegang kepada Aqidah yang murni maka setiap muslim akan mampu menghadapi problematika hidup. Ia akan selamat di dunia dan bahagia di akhirat. Dalam tafsir "Fi adz dzilal al Quran" ia menjelaskan, "Sesungguhnya tugas kita bukan untuk menghukumi manusia, ini kafir ini mukmin. Tapi tugas kita adalah mengenalkan hakekat laa Ilaaha Illa Allah (tiada tuhan selain Allah). Karena manusia tidak mengetahui konsekwensi dasar kalimat tersebut yaitu menerapkan hukum Islam dalam seluruh dimensi kehidupan."
Kedua: langkah yang harus ditempuh untuk membuat masyarakat muslim sebagaimana masyarakat yang telah dibentuk oleh Rasulullah SAW di Madinah. Hal ini terlihat dari beberapa karyanya seperti: nahwa mujtama' al Isl'mi, al ad'lah al ijtim''iyah fi al Islam, hal nahnu muslimun dll.
Ketiga: keuntungan yang di dapat oleh manusia bila menjadikan Islam sebagai manhaj hidup. Hal ini dituangkan dalam buku- bukunya seperti: al Isl'm wa al musykilah al hadh'rah, as sal'm al 'lami wa al Isl'm dll.
Keempat: Sikap Islam terhadap kolonialisme dalam semua segi, ideologi, politik, ekonomi, militer dll. Hal ini terlihat dalam bukunya al Isl'm wa al isti'm'r.
Pada tahun 1954 Sayyid Qutb beserta bersama ribuan anggota gerakan ikhwanul muslimin ditangkap dengan tuduhan rencana pembunuhan terhadap Jamal Abdul Nasir yang terkenal dengan nama peristiwa Mansyiah. Padahal ia termasuk salah seorang penasehat jamal Abdul Nasir. Melalui keputusan sidang militer ia dijatuhi hukuman 15 tahun sementara beberapa anggota ikhwan ada yang dijatuhi hukuman mati termasuk Hasan al Hudhaibi. Selama dalam penjara aktivitas menulisnya tidak berhenti. Banyak buku yang dihasilkan termasuk merampungkan tafsir Fi adz dzilal al Quran.


Pada tahun 1964 ia menerbitkan bukunya "Ma'aliim fi Ath Thariq" setelah keluar dari penjara. Buku ini adalah hasil renungan Sayyid Qutb selama di penjara. Bagi yang sekilas membacanya buku ini terkesan sangat radikal. Padahal tidak demikian maksud Sayyid Qutb. Ia hanya mengkritik aturan-aturan selain aturan Allah SWT yang berlaku di masyarakat sebagai aturan jahiliyah dan bukan menghukumi masyarakat. Ketika buku ini dibaca oleh Abul A'la al Maududi ia berkomentar seolah-olah ia yang mengarang buku tersebut. Struktru ide yang ada dalam buku "Ma'aliim fi Ath Thariq" menurut al Maududi sejalan dengan ide yang dikembangkannya selama ini.
Pada tahun 1965 turun perintah dari Jamal Abdul Nasir yang sedang berada di Moskow untuk menangkap Sayyid Qutb. Setelah menjalani pemeriksaan selama tiga hari Sayyid Qutb dijatuhi hukuman mati karena bergabung dengan ikhwanul muslimin yang dituduh merencanakan kudeta. Pada pagi dini hari tepatnya tanggal 29 Agustus 1966 Sayyid Qutb menjemput syahadah di tiang gantungan.
Penutup
Membaca perjalanan hidup Sayyid Qutb bagi penulis ibarat mengulang kembali perjuangan nabi Ibrahim melawan raja Namrud. Seperti nabi Ibrahim, Sayyid Qutb berjuang untuk menemukan prinsip hidup yang benar dan itu ia dapatkan dalam gerakan ikhwanul muslimin. Bahkan ia rela mati demi prinsip tersebut.

TAFSIR FI ZHILALIL QURAN
(KARYA MONUMENTAL SAYYID QUTUB)

Sayyid Qutub (1906-1966) di kenal sebagai kritikus sastra, novelis, penyair, pemikir Isam, aktivis Muslim Mesir paling terkenal pada abad ke-20, dan tokoh pergerakan Ikhwanul Muslimin. Sebagai tokoh pemikir Muslim, ia dapat disejajarkan dengan pemikir Pakistan, Abu A’la Maududi (1903-1979); pemikir Iran, Ali Syari’ati (1933-1977).
Karya terpenting Sayid Qutub adalah Tafsir Fi Zhililil Quran dan telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, In the Shade of The Quran ini oleh beberapa ulama dikategorikan ke dalam tafsir yang berorientasi sastra, budaya dan kemasyarakatan. Ciri tafsir yang berorientasi sastra, budaya dan kemyarakatan – yakni satu corak tafsir yang menjelaskan petunjuk-petumjuk ayat-ayat al Quran yang berkaitan langsung dengan kehidupan masyarakat, serta usaha-usaha untuk menanggulangi penyakit-penyakit atau masalah-masalah mereka berdasarkan petunjuk ayat-ayat, dengan mengemukakan petunjuk-petunjuk tersebut dalam bahasayang mudah dimengerti tapi indah di dengar.

A. Riwayat Hidup Sayid Qutub
Nama lengkapnya adalah Sayyid Qutub Ibn Ibrahim Husain Syadzili. Lahir di Musha, Asyut, Mesir. Ia mula-mula di didik dalam lingkungan desanya dan sudah hafalAl Quran selagi kecil. Menyadari akan bakat anaknya, orang tuanyamemindahkan keluarganya ke Halwan, daerah pinggiran Kairo. Ia memperoleh kesempatan masuk ke Tajhiziyah Dar Al-Ulum, nama lama Universitas Kairo.
Pada tahin 1929, ia mendapatkan gelar Sarjana Muda Pendidikan. Kemudian bekerja sebagai pengawas sekolah pada Departemen Pendidikan. Ia mulai berminat pada sastra Inggris, dan dilahapnya sesuatuyang dapat diperolehnya dalam bentuk terjemahan.
Tahun 1949, ia mendapat tugas belajar ke Amerika Serikat dalam pendidikan selama dua tahun, yakni di Wilson’s Teacher”s College di Washington, Greely College di Colorado dan Stanford University di California. Ia mulai mengalami kepahitan mengenai dukungan pemberitaan Pers Amerika untuk Israel yang dianggapnya tendensius. Dari Amerika ia mendapatkan pengalaman yang sangat luas mengenai problema sosial kemasyarakatan yang diakibatkan dari paham Materialisme yang gersang dari Roh ketuhanan. Ia yakin bahwa Islamlah yang mampu menyelamatkan manusia dari paham ini.
Sayyid Qutub kembali dari AS saat terjadi krisis politik di Mesir yang menyebabkan terjadi kudeta Militer pada Juli 1952. ia menjadi sangat anti AS dan barat. Dan ia menjadi salah seorang pendukung pemberontakan Nasser, tetapi berbalik menentangnya setelah Nasser mulai menyiksa kelompok Ikhwan.
Sayyid Qutub bergabung dengan gerakan Ikhwanul Muslimin pada tahun 1953, dan menjadi juru bicara utama Ikhwan setelah pembubaran jamaah mereka pada tahun 1954; sebagai pembawa oposisi keagamaan terhadap sosialisme. Ia mulai menulis topik-topik tentang Islam. Sayid Qutub banyak dipengaruhi oleh tulisan-tulisan Muhammad Asad (Leopold Weiss), Abul Hasan Ali An-Nadawi dan Abul A’la Almaududi.

B. Pemikiran Dan Pengaruhnya
Sayyid Qutub mengusulkan Islam sebagai suatu alternatif terhadap ideologi-ideologi Komunisme, Kapitalisme, Liberalisme dan Sekulerisme.banyak tulisanya berisi tentang ideologiyang mendukung pembaruan Islam.
Menurut Hamid Enayat, pokok pemikiran Sayyid Qutub secara tersirat merupakan kritik terhadap sosialisme Mesir. Yakni:
1. Baik Islam maupum Sosialisme adalah sistem pemikiran dan kehidupan yang sama-sama komprehensif yang tidak bisa dipecah belah, namun keduanya terpisah satu dari yang lain. Karenanya, kedua sistem ini tidak bisa dirujukkan atau disintesiskan.
2. Sosialisme – seperti halnya komunisme dan kapitalisme – adalah pertumbuhan dari pemikiran Jahiliyyah dengan watak aslinya yang rusak. Sosialisme menekankan kesejahteraan sosial dan kemakmuran material dengan mengorbankan keselamatan moral. Islam tidak mengabaikan segi material tapi Islam beranggapan bahwa langkah awal untuk rancangan itu adalah penyucian dan pembebasan jiwa. Tanpa ini upaya untuk meningkatkan kehidupan manusia tidak akan berhasil.

Publikasi rutin Tafsir Fi Zhilalil Quran, baik di Mesir maupun Saudi Arabia melalui siaran radio mendapat tanggapan yang luar biasa dan mempengaruhi cara masyarakt dalam memahami Al Quran. Pada saat yang sama rezim Nasser sudah mendominasi dan menundukkan pendapat umum kepada pemerintah. Dari sinilah orang Mesir mulai tertarik untuk membaca pikiran yang tidak tunduk pada pemerintah.
Pengaruhnya terhadap kelompok tertentu ditandai dengan pengadilan yang bukunya sebagai bukti bahwa ia menganjurkan dan berencana menumbangkan pemerintahan Mesir dengan cara kekerasan dengan vonis hukuman mati. Kematiannya di tiang gantungan membuat pengaruh itu semakin kuat.
Hampir pada tiap pergerakan di Mesir bahkan sampai ke Iran menggunakan bahasa dan tulisan Sayyid Qutub untuk memperkuat aktivitas mereka.

C. Tafsir Fi Zhilalil Quran
Di tulis dalam rentang waktu antara 1952-1965. sayyid Qutub sempat merevisi ketiga belas juz pertama tafsirnya semasa penahanannyayang panjang.
Tafsir tersebut membawa Sayyid Qutub menjelajahi berbagai cara agar pesan orisinil Islam yang disampaikan Al Quran dapat menjadi fondasi suatu ideologi sempurna. Al Quran memberi umat manusia sarana untuk menemukan kembali dirinya dalam pola yang dikehendaki Allah melalui Nabi dan oleh Nabi. Tafsirnya banyak menekankan perlunya manusia mendekati iman secara intuitif, dengan cara yang tak perlu dirasionalkan atau dijelaskan dengan merujuk kriteria filsafat. Iman itu harus ditetapkan melalui tindakan langsung ke dalam kehidupan individu, sosial dan tatanan politik.
Mahdi Fahullah menilai bahwa tafsir Sayyyid Qutub yang tiga puluh juz ini merupakan usaha terobosan penafsiran yang sederhana dan jelas.

a. Latar Belakang Penulisannya
Pada kata pengantarnya, Sayyid Qutub mengemukakan kesan-kesanya hidup di bawah naungan al Quran. Hidup di bawah naungan al Quran adalah nikmat. Nikmat yang tidak diketahui kecuali oleh yang telah merasakanya. Ia merasa dekat dan mendengar serta berbicara dengan Allah melalui al Quran. Hidup di bawan naungan al Quran, Sayyid Qutub merasakan keselarasan yang indah antara gerak manusia sebagaimana kehendak Allah dengan gerak-gerik alam ciptaan-Nya. Ia melihat kebinasaan yang akan menimpa kemanusiaan akibat pemyimpangannya dari undang-undang alam ini. Ia menyaksikan benturan yang keras antara ajaran-ajaran rusak yang dididektekan padanya dengan fitrahnya, yang telah ditetapkan Allah. Sayyid Qutub bertanya setan durhaka macam apa yang telah menggiring langkah manusia ke dalam nestapa ini.
Di bawah naungan al Quran, Sayyid Qutub melihat wujud alam ini lebih besar dari pada bentuk yang tampak di depan mata. Ia adalah alam nyata dan alam gaib, alam dunia dan akhirat. Kehidupan manusia membentang dalam rentang masayang panjang itu dan kematian bukanlah akhir perjalanan hidup, melainkan satu fase setengah jalan. Perjalanan panjang fase itu adalah menuju pencipta Yang Esa. Kepada-Nya setiapjiwa mukmin menghadap dalam khusuk.
???? ???????? ??? ??? ????????????? ?????????? ??????? ????????? ???????????? ????????????? ??????????? ?
15. Hanya kepada Allah-lah sujud (patuh) segala apa yang di langit dan di bumi, baik dengan kemauan sendiri ataupun terpaksa (dan sujud pula) bayang-bayangnya di waktu pagi dan petang hari.

Menurut Qutub, syariat Allah bagi manusia merupakan salah satu bagian dari undang-undang Nya yang menyeluruh di alam semesta. Maka, melaksanakan syariat pasti memiliki dampak yang positif di dalam menyerasikan perjalanan hidup manusia dengan perjalanan alam semesta.
Syariat ini tidak lain adalah buah Iman, ia tidak mungkin berjalan berjalan sendiri tanpa fondasinya yang besar. Syariat di buat untuk dilaksanakan pada masyarakat muslim dan ia juga di buat untuk memberi saham untuk membangun masyarakat muslim. Dalam akhir ‘pembukaanya’ beliau mengatakan bahwa inilah sebagian dari curahan dalam kehidupan di bawah naungan Al Quran.

b. Struktur Tafsir Dan Ciri-cirinya
Tafsir Sayyid Qutub di susun dengan Tahlili. Ia memulai penafsiran suatu surat dengan memberikan gambaran ringkas kandungan suratyang akan dikaji secara rinci. Dalam surat Al Fatihah misalnya, Sayyid Qutub mengemukakan bahwa dalam surat ini tersimpul prinsip-prinsip akidah Islam, konsep-konsepsi Islam dan pengarah-pengarahanyayang mengidentifikasi hikmah. Dipilihnya surat ini karena sebagai bacaan yang di ulang-ulang dalam setiap rakaat shalat serta tidak sahnya shalat tanpa membacanya. Setelah itu beliau memperinci penafsiran ayat demi ayat. Begitupula ketika beliau menafsirkan surat-surat berikutnya.
Dalam menafsirkan surat yang panjang, Sayyid Qutub mengelompokkan sejumlah ayat sebagai kesatuan, sesuai dengan pesan yang terkandung di dalam ayat-ayat tersebut. Dalam menafsirkan surat Al Baqarah misalnya, beliau menetapkan ayat pertama sampai ayat 29 sebagai bagian pertama pembahasan. Selanjutnya beliau menafsirkan ayat 30 - 39, ayat 40 – 74, ayat 75 – 103, dst. Dibandingkan dengan pengelompokan oleh Muhammad Abduh dan Rasyid Ridha dalam Tafsir Al Manar, pengelompokan Sayid Qutub relatif lebih besar.
Dalam menafsirkan ayat, ia menggunakan ayat-ayat al Quran sebagai penjelas. Ketika menafsirkan ayat “ ??? ?? ? ??? ?? “ misalnya, ia mengutip surat Luqman: 5 dan Qaf: 2-3:
??????? ??????????? ??•? ?????? ????????????? ?????????? ??????????? ???? ? ???? ?????????? ?? ? ???? ???????????? ?? ??????????? ????
25. Dan Sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka: "Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?" tentu mereka akan menjawab: "Allah". Katakanlah : "Segala puji bagi Allah"; tetapi kebanyakan mereka tidak Mengetahui.
???? ????????? ??? ????????? ??????? ????????? ??????? ?????????????? ?????? ?????? ??????? ??? ??????? ??????? ?•????? ???????? ? ??????? ?????? ??????? ???
2. (mereka tidak menerimanya) bahkan mereka tercengang Karena Telah datang kepada mereka seorang pemberi peringatan dari (kalangan) mereka sendiri, Maka berkatalah orang-orang kafir :"Ini adalah suatu yang amat ajaib".
3. Apakah kami setelah mati dan setelah menjadi tanah (Kami akan kembali lagi) ?, itu adalah suatu pengembalian yang tidak mungkin.

Sayyid Qutub menggunakan hadist-hadist Nabi SAW sebagai penjelas. Sebagian dengan menyebut perawi pertama dan terakhir, tanpa menyertakan rangkaian sanadnya secara lengkap. Terkadang hanya dengan menyebutkan rawi terakhirnya. Misalnya, hadist tentang keharusan membaca surat Al Fatihah yang di riwayatkan Bukhari dan Muslim.
Kemudian melengkapi Tafsirnya dengan perkataan sahabat, misalnya perkataan Umar tentang permohonan suaka pendudul Iraq, terkait surat Al Baqarah:100 tentang menepati janji.
Juga mengutip pendapat-pendapat ulama terdahulu. Seperti mengutip Tafsir Ibn Katsir mengenai peristiwa Bai’ah Aqabah. Kemudian dari Al Bidayah Wan Nihayah tentang lamanya Nabi tinggal di Makkah selama 10 tahun.
Sayyid Qutub menekankan analisis munasabah, keseimbangan, dan keserasian dalam surat. Misalnya, uraian tentang Nabi Musa diikuti dengan uraian tentang bani Israil, persesuaian antar pembukaan surat dengan penutupnya sseperti tampak dalam surat Al Baqarah, yang mengutarakan sifat-sifat orang beriman dan karakteristik orang beriman. Yang tak kalah penting, ia menekankan analisis rasional. Misalnya tentang sihir dalam Al Baqarah 102 -103. sayyid Qutub menulis bahwa sihir yang mempunyai kekuatan dapat memisahkan suami dengan istrinya adalah dengan izin Allah. Sihir itu masih terjadi di setiap waktu di mana sebagian manusia memiliki keahlian dalam bidang itu yang tidak bisa di jelaskan dengan logika ilmiah. Ini menyeripai hipnotis dan telepati. Sungguh berlawanan dengan realitas apabila seseorang bersikap apriori, tidak percaya dengan kekuatan gaib semata-mata karena tidak ada referensi praktis dari ilmu pengetahuan. Ini bukan berarti menyetujui bentuk khurafat, takhayul.
Dalam menafsirkan ayat:
????? ???????? ????? ??????????? ???? ???????•???? ?????? ???????? ?????????? ? ???? ???? ????? ???? ???? ?????????? ? ???????? ??????•??? ????????????? ?????? ??????? ???????? ???? ?????????? ? ??? ???? ???? ???? ??? ??????? ???? ??????? ?????
120. Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: "Sesungguhnya petunjuk Allah Itulah petunjuk (yang benar)". dan Sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, Maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu.

Sayyid Qutub menafsiri, orang-orang Yahudi dan Nasrani senantiasa akan memerangi kaum Muslimin. Mereka tidak akan berdamai dengan kaum Muslimin, kecuali jika kaum Muslimin menyimpang dari perkara ini, meninggalkan kebenaran ini, dan melepaskan keyakinan mereka lalu mengikuti kesesatan, syirik dan pemikiran jahat orang-orang Yahudi dan Nasrani tersebut. Itulah ideologi mereka. Inilah hakikat peperangan yang mereka lancarkan terhadap umat Islam kapanpun dan dimanapun. Perang akidah yang selalu berkobar – walau tidak jarang umat Islam sendiri lah yang saling menyerang dan menjatuhkan saudaranya sendiri.

D. Contoh Dalam Menafsirkan al Quran
Dalam surat Al Fatihah, di awali dengan memberikan gambaran tentang pentingnya surat ini dalam setiap ibadah kepada Allah, yakni Shalat. Kemudian beliau mengambil Hadist yang diriwayatkan Imam Bukhari dan Muslim, “tidak ada shalat bagi orang tidak membaca Fatihul kitab.”
?????? ??? ?? ??? ?? ??? ??? ????? ?
Mulai dari ayat 1-5, masing-masing satu surat. Kemudian ayat 6-7 menjadi 1 kelompok.
Kemudian dalam surat al Baqarah, mulai dari ayat 1 – 29 menjadi 1 kelompok dengan di beri pengantar terlebih dahulu dengan tema: membangun Jamaah Islamiyah dan mempersiapkanya untuk mengemban Amanat Akidah. Kemudian diberi keterangan (tafsiran) pada tiap ayat. Pada ayat 30 – 39 menjadi 1 kelompok dengan tema: Metode Penceritaan dalam Al Quran dan Urgensinya. Pada ayat 40 – 74 menjadi 1 kelompok dengan tema: Kisah Petualangan Bani Israil. Dst.

RFERENSI:
• Al Quran dan Terjemahnya, DEPAG RI.
• Tafsir Fi Zhilalil Quran, Darusy-Syuruq, Beirut. 1992.
• Muhammad Chirzin, Jihad Menurut Sayyid Qutub Dalam Tafir Zhilal, Intermedia, Solo, 2001.
• Al Khalidi, Salah Abdul Fatah, Pengantar memahami Tafsir Fi Zhilalil Quran Sayyid Qutub, Intermedia, Solo, 2001.
• Abu Bakar, Bahrun, Keindahan Al Quran yang Menakjubkan, Buku Bantu memahami Tafsir Fi Zhilalil Quran. Jakarta: Robbani Press, 2004.
• As’ad Yasin Mukhottob Hamzah, Tafsir Fi Zilalil Quran Di Bawah Naungan Al Quran Sayyid Qutub, Jakarta: Gema Insani Prees, 2000.
• Harun Nasution, Pembaharuan Islam, Jakarta: UI Prees, 1986.
• M. Quraisy Shihab, Membumikan Al Quran, Bandung: Mizan, 2006.


Ulama, da’i, serta para penyeru Islam yang mempersembahkan nyawanya di Jalan Allah, atas dasar ikhlash kepadaNya, sentiasa ditempatkan Allah sangat tinggi dan mulia di hati segenap manusia.

Di antara da’i dan penyeru Islam itu adalah Syuhada (insya Allah) Sayyid Qutb. Bahkan peristiwa eksekusi matinya yang dilakukan dengan cara digantung, memberikan kesan mendalam dan menggetarkan bagi siapa saja yang mengenal Beliau atau menyaksikan sikapnya yang teguh. Di antara mereka yang begitu tergetar dengan sosok mulia ini adalah dua orang polisi yang menyaksikan eksekusi matinya (di tahun 1966).

Salah seorang polisi itu mengetengahkan kisahnya kepada kita:

Ada banyak peristiwa yang tidak pernah kami bayangkan sebelumnya, lalu peristiwa itu menghantam kami dan merubah total kehidupan kami.

Di penjara militer pada saat itu, setiap malam kami menerima orang atau sekelompok orang, laki-laki atau perempuan, tua maupun muda. Setiap orang-orang itu tiba, atasan kami menyampaikan bahwa orang-orang itu adalah para pengkhianat negara yang telah bekerja sama dengan agen Zionis Yahudi. Karena itu, dengan cara apapun kami harus bias mengorek rahasia dari mereka. Kami harus dapat membuat mereka membuka mulut dengan cara apapun, meski itu harus dengan menimpakan siksaan keji pada mereka tanpa pandang bulu.

Jika tubuh mereka penuh dengan berbagai luka akibat pukulan dan cambukan, itu sesuatu pemandangan harian yang biasa. Kami melaksanakan tugas itu dengan satu keyakinan kuat bahwa kami tengah melaksanakan tugas mulia: menyelamatkan negara dan melindungi masyarakat dari para “pengkhianat keji” yang telah bekerja sama dengan Yahudi hina.

Begitulah, hingga kami menyaksikan berbagai peristiwa yang tidak dapat kami mengerti. Kami mempersaksikan para ‘pengkhianat’ ini sentiasa menjaga shalat mereka, bahkan sentiasa berusaha menjaga dengan teguh qiyamullail setiap malam, dalam keadaan apapun. Ketika ayunan pukulan dan cabikan cambuk memecahkan daging mereka, mereka tidak berhenti untuk mengingat Allah. Lisan mereka sentiasa berdzikir walau tengah menghadapi siksaan yang berat.

Beberapa di antara mereka berpulang menghadap Allah sementar ayunan cambuk tengah mendera tubuh mereka, atau ketika sekawanan anjing lapar merobek daging punggung mereka. Tetapi dalam kondisi mencekam itu, mereka menghadapi maut dengan senyum di bibir, dan lisan yang selalu basah mengingat nama Allah.

Perlahan, kami mulai ragu, apakah benar orang-orang ini adalah sekawanan ‘penjahat keji’ dan ‘pengkhianat’? Bagaimana mungkin orang-orang yang teguh dalam menjalankan perintah agamanya adalah orang yang berkolaborasi dengan musuh Allah?

Maka kami, aku dan temanku yang sama-sama bertugas di kepolisian ini, secara rahasia menyepakati, untuk sedapat mungkin berusaha tidak menyakiti orang-orang ini, serta memberikan mereka bantuan apa saja yang dapat kami lakukan. Dengan ijin Allah, tugas saya di penjara militer tersebut tidak berlangsung lama. Penugasan kami yang terakhir di penjara itu adalah menjaga sebuah sel di mana di dalamnya dipenjara seseorang. Kami diberi tahu bahwa orang ini adalah yang paling berbahaya dari kumpulan ‘pengkhianat’ itu. Orang ini adalah pemimpin dan perencana seluruh makar jahat mereka. Namanya Sayyid Qutb.

Orang ini agaknya telah mengalami siksaan sangat berat hingga ia tidak mampu lagi untuk berdiri. Mereka harus menyeretnya ke Pengadilan Militer ketika ia akan disidangkan. Suatu malam, keputusan telah sampai untuknya, ia harus dieksekusi mati dengan cara digantung.

Malam itu seorang sheikh dibawa menemuinya, untuk mentalqin dan mengingatkannya kepada Allah, sebelum dieksekusi.

(Sheikh itu berkata, “Wahai Sayyid, ucapkanlah Laa ilaha illa Allah…”. Sayyid Qutb hanya tersenyum lalu berkata, “Sampai juga engkau wahai Sheikh, menyempurnakan seluruh sandiwara ini? Ketahuilah, kami mati dan mengorbankan diri demi membela dan meninggikan kalimat Laa ilaha illa Allah, sementara engkau mencari makan dengan Laa ilaha illa Allah”. Pent)

Dini hari esoknya, kami, aku dan temanku, menuntun dan tangannya dan membawanya ke sebuah mobil tertutup, di mana di dalamnya telah ada beberapa tahanan lainnya yang juga akan dieksekusi. Beberapa saat kemudian, mobil penjara itu berangkat ke tempat eksekusi, dikawal oleh beberapa mobil militer yang membawa kawanan tentara bersenjata lengkap.

Begitu tiba di tempat eksekusi, tiap tentara menempati posisinya dengan senjata siap. Para perwira militer telah menyiapkan segala hal termasuk memasang instalasi tiang gantung untuk setiap tahanan. Seorang tentara eksekutor mengalungkan tali gantung ke leher Beliau dan para tahanan lain. Setelah semua siap, seluruh petugas bersiap menunggu perintah eksekusi.

Di tengah suasana ‘maut’ yang begitu mencekam dan menggoncangkan jiwa itu, aku menyaksikan peristiwa yang mengharukan dan mengagumkan. Ketika tali gantung telah mengikat leher mereka, masing-masing saling bertausiyah kepada saudaranya, untuk tetap tsabat dan shabr, serta menyampaikan kabar gembira, saling berjanji untuk bertemu di Surga, bersama dengan Rasulullah tercinta dan para Shahabat. Tausiyah ini kemudian diakhiri dengan pekikan, “ALLAHU AKBAR WA LILLAHIL HAMD!” Aku tergetar mendengarnya.

Di saat yang genting itu, kami mendengar bunyi mobil datang. Gerbang ruangan dibuka dan seorang pejabat militer tingkat tinggi datang dengan tergesa-gesa sembari memberi komando agar pelaksanaan eksekusi ditunda.

Perwira tinggi itu mendekati Sayyid Qutb, lalu memerintahkan agar tali gantungan dilepaskan dan tutup mata dibuka. Perwira itu kemudian menyampaikan kata-kata dengan bibir bergetar, “Saudaraku Sayyid, aku datang bersegera menghadap Anda, dengan membawa kabar gembira dan pengampunan dari Presiden kita yang sangat pengasih. Anda hanya perlu menulis satu kalimat saja sehingga Anda dan seluruh teman-teman Anda akan diampuni”.

Perwira itu tidak membuang-buang waktu, ia segera mengeluarkan sebuah notes kecil dari saku bajunya dan sebuah pulpen, lalu berkata, “Tulislah Saudaraku, satu kalimat saja… Aku bersalah dan aku minta maaf…”

(Hal serupa pernah terjadi ketika Ustadz Sayyid Qutb dipenjara, lalu datanglah saudarinya Aminah Qutb sembari membawa pesan dari rejim thowaghit Mesir, meminta agar Sayyid Qutb sekedar mengajukan permohonan maaf secara tertulis kepada Presiden Jamal Abdul Naser, maka ia akan diampuni. Sayyid Qutb mengucapkan kata-katanya yang terkenal, “Telunjuk yang sentiasa mempersaksikan keesaan Allah dalam setiap shalatnya, menolak untuk menuliskan barang satu huruf penundukan atau menyerah kepada rejim thowaghit…”. Pent)

Sayyid Qutb menatap perwira itu dengan matanya yang bening. Satu senyum tersungging di bibirnya. Lalu dengan sangat berwibawa Beliau berkata, “Tidak akan pernah! Aku tidak akan pernah bersedia menukar kehidupan dunia yang fana ini dengan Akhirat yang abadi”.

Perwira itu berkata, dengan nada suara bergetar karena rasa sedih yang mencekam, “Tetapi Sayyid, itu artinya kematian…”

Ustadz Sayyid Qutb berkata tenang, “Selamat datang kematian di Jalan Allah… Sungguh Allah Maha Besar!”

Aku menyaksikan seluruh episode ini, dan tidak mampu berkata apa-apa. Kami menyaksikan gunung menjulang yang kokoh berdiri mempertahankan iman dan keyakinan. Dialog itu tidak dilanjutkan, dan sang perwira memberi tanda eksekusi untuk dilanjutkan.

Segera, para eksekutor akan menekan tuas, dan tubuh Sayyid Qutb beserta kawan-kawannya akan menggantung. Lisan semua mereka yang akan menjalani eksekusi itu mengucapkan sesuatu yang tidak akan pernah kami lupakan untuk selama-lamanya… Mereka mengucapkan, “Laa ilaha illah Allah, Muhammad Rasulullah…”

Sejak hari itu, aku berjanji kepada diriku untuk bertobat, takut kepada Allah, dan berusaha menjadi hambaNya yang sholeh. Aku sentiasa berdoa kepada Allah agar Dia mengampuni dosa-dosaku, serta menjaga diriku di dalam iman hingga akhir hayatku.



Diambil dari kumpulan kisah: “Mereka yang kembali kepada Allah”
Oleh: Muhammad Abdul Aziz Al Musnad
Diterjemahkan oleh Dr. Muhammad Amin Taufiq.

Sayyid Qutub Sang pemikir Sejati

Sang pemikir kali ini adalah sayyid Qutub beliaunya seorang ilmuwan, sastrawan dari Mesir. Sayyid Qutub namanya. Ia lahir di daerah Asyut, Mesir tahun 1906, di sebuah desa dengan tradisi agama yang kental. Dengan tradisi yang seperti itu, maka tak heran jika Qutb kecil menjadi seorang anak yang pandai dalam ilmu agama. Tak hanya itu, saat usianya masih belia, ia sudah hafal Qur'an. Bakat dan kepandaian menyerap ilmu yang besar itu tak disia-siakan terutama oleh kedua orang tua Qutb. Berbekal persedian dan harta yang sangat terbatas, karena memang ia terlahir dalam keluarga sederhana, Qutb di kirim ke Halwan. Sebuah daerah pinggiran ibukota Mesir, Cairo.

Kesempatan yang diperolehnya untuk lebih berkembang di luar kota asal tak disia-siakan oleh Qutb. Semangat dan kemampuan belajar yang tinggi ia tunjukkan pada kedua orang tuanya. Sebagai buktinya, ia berhasil masuk pada perguruan tinggi Tajhisziyah Dar al Ulum, sekarang Universitas Cairo. Kala itu, tak sembarang orang bisa meraih pendidikan tinggi di tanah Mesir, dan Qutb beruntung menjadi salah satunya. Tentunya dengan kerja keras dan belajar. Tahun 1933, Qutb mendapat menyabet gelar Sarjana Pendidikan.

Tak lama setelah itu ia diterima bekerja sebagai pengawas pendidikan di Departemen Pendidikan Mesir. Selama bekerja, Qutb menunjukkan kualitas dan hasil yang luar biasa, sehingga ia dikirim ke Amerika untuk menuntut ilmu lebih tinggi dari sebelumnya.Qutb memanfaatkan betul waktunya ketika berada di Amerika, tak tanggung-tanggung ia menuntut ilmu di tiga perguruan tinggi di negeri Paman Sam itu. Wilson's Teacher's College, di Washington ia jelajahi, Greeley College di Colorado ia timba ilmunya, juga Stanford University di California tak ketinggalan diselami pula.

Seperti keranjingan ilmu, tak puas dengan yang ditemuinya ia berkelana ke berbagai negara di Eropa. Itali, Inggris dan Swiss dan berbagai negara lain dikunjunginya. Tapi itupun tak menyiram dahaganya. Studi di banyak tempat yang dilakukannya memberi satu kesimpulan pada Sayyid Qutb. Hukum dan ilmu Allah saja muaranya. Selama ia mengembara, banyak problem yang ditemuinya di beberapa negara. Secara garis besar Sayyid Qutb menarik kesimpulan, bahwa problem yang ada ditimbulkan oleh dunia yang semakin matre dan jauh dari nilai-nilai agama.

Alhasil, setelah lama mengembara, Sayyid Qutb kembali lagi ke asalnya. Bak pepatah, sejauh-jauh bangau terbang, pasti akan pulang ke kandang. Ia merasa, bahwa Qur'an sudah sejak lama mampu menjawab semua pertanyaan yang ada. Ia kembali ke Mesir dan bergabung dengan kelompok pergerakan Ihkawanul Muslimin. Di sanalah Sayyid Qutb benar-benar mengaktualisasikan dirinya. Dengan kapasitas dan ilmunya, tak lama namanya meroket dalam pergerakan itu. Tapi pada tahun 1951, pemerintahan Mesir mengeluarkan larangan dan pembubaran Ikhwanul Muslimin.

Saat itu Sayyid Qutb menjabat sebagai anggota panitia pelaksana program dan ketua lembaga dakwah. Selain dikenal sebagai tokoh pergerakan , Qutb juga dikenal sebagai seorang penulis dan kritikus sastra. Kalau di Indonesia semacam H.B. Jassin lah. Banyak karyanya yang telah dibukukan. Ia menulis tentang banyak hal, mulai dari sastra, politik sampai keagamaan. Empat tahun kemudian, tepatnya Juli 1954, Sayyid menjabat sebagai pemimpin redaksi harian Ikhwanul Muslimin. Tapi harian tersebut tak berumur lama, hanya dua bulan, karena dilarang beredar oleh pemerintah.

Tak lain dan tak bukan sebabnya adalah sikap keras, pemimpin redaksi, Sayyid Qutb yang mengkritik keras Presiden Mesir kala itu, Kolonel Gamal Abdel Naseer. Saat itu Sayyid Qutb mengkritik perjanjian yang disepakati antara pemerintahan Mesir dan negara Inggris. Tepatnya 7 Juli 1954. Sejak saat itu, kekejaman penguasa bertubi-tubi diterimanya. Setelah melalui proses yang panjang dan rekayasa, Mei 1955, Sayyid Qutb ditahan dan dipenjara dengan alasan hendak menggulingkan pemerintahan yang sah. Tiga bulan kemudian, hukuman yang lebih berat diterimanya, yakni harus bekerja paksa di kamp-kamp penampungan selama 15 tahun lamanya. Berpindah-pindah penjara, begitulah yang diterima Sayyid Qutb dari pemerintahnya kala itu.

Hal itu terus di alaminya sampai pertengahan 1964, saat presiden Irak kala itu melawat ke Mesir. Abdul Salam Arief, sang presiden Irak, memminta pada pemerintahan Mesir untuk membebaskan Sayyid Qutb tanpa tuntutan. Tapi ternyata kehidupan bebas tanpa dinding pembatas tak lama dinikmatinya. Setahun kemudian, pemerintah kembali menahannya tanpa alasan yang jelas. Kali ini justru lebih pedih lagi, Sayyid Qutb tak hanya sendiri. Tiga saudaranya dipaksa ikut serta dalam penahanan ini. Muhammad Qutb, Hamidah dan Aminah, serta 20.000 rakyat Mesir lainnya.

Alasannya seperti semua, menuduh Ikhwanul Muslimin membuat gerakan yang berusaha menggulingkan dan membunuh Presiden Naseer. Ternyata, berjuang dan menjadi orang baik butuh pengorbanan. Tak semua niat baik dapat diterima dengan lapang dada. Hukuman yang diterima kali ini pun lebih berat dari semua hukuman yang pernah diterima Sayyid Qutb sebelumnya. Ia dan dua orang kawan seperjuangannya dijatuhi hukuman mati.

Meski berbagai kalangan dari dunia internasional telah mengecam Mesir atas hukuman tersebut, Mesir tetap saja bersikukuh seperti batu. Tepat pada tanggal 29 Agustus 1969, ia syahid di depan algojo-algojo pembunuhnya. Sebelum ia menghadapi ekskusinya dengan gagah berani, Sayyid Qutb sempat menuliskan corat-coret sederhana, tentang pertanyaan dan pembelaannya. Kini corat-coret itu telah menjadi buku berjudul, "MENGAPA SAYA DIHUKUM MATI."

Sebuah pertanyaan yang tak pernah bisa dijawab oleh pemerintahan Mesir kala itu. Semoga Allah memberikan tempat yang mulia di sisi-Nya.
Amin.

HIKAM:
Studi di banyak tempat yang dilakukannya, seperti Wilson's Teacher's College, di Washington, Greeley College di Colorado, Stanford University di California, Eropa. Itali, Inggris dan Swiss dan berbagai negara lain dikunjunginya, tapi itu tak menyiram dahaganya. Akhirnya satu kesimpulan yang diperolehnya: HUKUM DAN ILMU ALLAH SAJA MUARANYA.Selama ia mengembara, banyak problem yang ditemuinya di beberapa negara. Secara garis besar Sayyid Qutb menarik kesimpulan, bahwa problem yang ada ditimbulkan oleh dunia yang semakin matre dan jauh dari nilai-nilai agama. Tanggal 29 Agustus 1969, beliau syahid. Memang, berjuang dan menjadi orang baik butuh pengorbanan. Tak semua niat baik dapat diterima dengan lapang dada.

Sang Falsafah Siantar

Mencari guru seperti Saidul Amin Usman
telah lama berpisah dengan mu pingin rasanya membuat perjumpaan
dikala hati resa dan gunda dengan mutiara-mutiara kasih dari sang falsafah
yang telah belajar dari buya Hamka menjadi cindekia.

Dari siantar hingga melayu menyusur ilmu tiada henti demi penegak islam yang murni
fatwa-fatwa mu terbawa dalam ukiran realiti.

Falsafah perkahwinan mengikut perspektif Islam

Oleh Khoirul Anam dan Drs,Saidul Amin Usman,M.Ag,Phd

AKHIR-AKHIR ini ada satu isu yang muncul dalam masyarakat dan menjadi perbincangan, baik di dalam media elektronik mahupun media cetak. Isu itu adalah perceraian pasangan yang telah berumur lanjut kerana salah seorang ingin bernikah dengan pasangan yang lebih muda.

Fenomena ini sangat menyedihkan sesudah pasangan terbabit berpuluh-puluh tahun hidup bersama, memiliki anak dan cucu tetapi berpisah pada saat telah berada
di penghujung usia.

Di dalam al-Quran dijelaskan bahawa tujuan pernikahan adalah untuk mendapatkan ketenangan dan kebahagiaan, sebagaimana firman Allah yang bermaksud: "Dan di
antara tanda-tanda kebesaran Allah itu bahawa Dia jadikan bagi kamu pasangan hidup agar kamu mendapatkan ketenangan/kebahagiaan bersamanya. Kemudian Allah ciptakan di antara kamu berdua mawaddah dan rahmah." (Surah al-Rum, ayat 21)

Alam ini terasa indah kerana Allah menciptakannya berpasang-pasangan. Ada siang, ada pula malam. Ada tempat yang subur, ada pula yang tandus. Ada gunung-ganang yang tinggi tapi ada juga lembah dan lurah yang dalam. Ada lelaki dan ada pula perempuan.

Allah menciptakan pasangan untuk manusia agar mereka dapat hidup seiring sejalan, berbahagi suka dan duka serta tetap bersama dalam melayari kehidupan yang penuh dengan onak, duri, dugaan, tentangan dan cabaran demi mencapai satu matlamat mendapatkan keluarga sakinah mardatillah.

Selain ketenangan di dalam pernikahan, Allah juga menciptakan mawaddah dan rahmah di hati suami dan isteri. Sebahagian ahli tafsir membezakan makna mawaddah dan
rahmah ini.

Bagi mereka, mawaddah adalah rasa cinta berdasarkan syahwat kemanusiaan, iaitu keinginan untuk melakukan persetubuhan suami isteri yang akan melahirkan dan mengembangkan keturunan manusia.

Mawaddah atau keinginan untuk melakukan persetubuhan suami isteri ini ada hadnya seiring dengan umur manusia itu sendiri. Apabila seorang lelaki telah berumur 60-70 tahun dan perempuan berumur 50 tahun, mawaddah ini akan berkurangan. Maka, pada saat inilah Allah akan menimbulkan rahmah atau kasih sayang yang suci murni di hati pasangan berkenaan.

Menurut Prof Dr Hamka, rahmah lebih tinggi kedudukannya daripada mawaddah sebab ia kasih mesra di antara suami isteri yang bukan lagi berasaskan keinginan syahwat,
sebaliknya rasa kasih sayang murni yang tumbuh dari jiwa yang paling dalam sehingga suami isteri merasakan kebahagiaan yang tidak bertepi dan ketenangan yang tidak berbatas.

Pada masa ini mereka bukan lagi berfikir mengenai tongkat ali, Viagra dan ubat-ubat lain bagi mengembalikan kekuatan tenaga batin tetapi yang mereka inginkan adalah mengisi hari-hari akhir ini dengan beribadah dan mendekatkan diri kepada Allah
sedekat-dekatnya secara bersama-sama.

Mereka juga berusaha memberikan contoh yang baik, teladan dan nasihat kepada anak cucu supaya mereka tidak salah dalam memilih jalan hidup di dunia yang penuh dugaan ini. Inilah hakikat rahmah itu.

Melihat kes yang terjadi di negara kita, di mana dilaporkan sudah banyak terjadi pasangan tua yang berpisah kerana ingin bernikah dengan yang lebih muda, maka dapat dikatakan bahawa terjadi krisis rahmah dalam perkahwinan hinggakan hubungan seks menjadi matlamat.

Pada saat ini, seakan-akan Allah hanya memberikan kepada kita mawaddah tetapi mencabut ni'mat rahmah. Akibatnya, kes-kes seperti di atas semakin menjadi-jadi dan
kebahagiaan rumah tangga semakin jauh.

Allah akan menurunkan rahmah di dalam satu keluarga apabila keluarga berkenaan dibina atas niat mencari keredaan Allah. Oleh sebab itu, di dalam proses membina satu rumah tangga, Rasulullah memberikan bimbingan kepada umat Islam agar memilih pasangan kerana empat prinsip, iaitu kecantikan, keturunan, kekayaan dan agamanya. Akan tetapi Rasulullah memberatkan agar agama menjadi keutamaan.

Ada kalanya orang memilih pasangan kerana kecantikan dan kekayaan sehingga mereka lupa bahawa kecantikan dan harta bersifat sementara. Begitu juga dengan keturunan dan nasab tidak selamanya menjamin kebahagiaan.

Oleh sebab itulah, Rasulullah menyuruh memilih pasangan kerana agama sebab kekurangan dalam rupa, harta dan nasab atau keturunan akan disempurnakan oleh agama.

Wanita yang beragama akan timbul di wajahnya kecantikan yang lahir dari jiwanya dan menyinari segenap tubuhnya, bukan kecantikan palsu yang diselaputi solekan.

Wanita yang beragama juga akan melahirkan sifat qana'ah, iaitu berasa cukup dengan yang mereka miliki dan tidak terlalu memaksa diri untuk mencapai sesuatu. Sifat inilah yang dikatakan oleh ahli tasawuf dengan kekayaan yang sebenarnya.

Agama pula membezakan seorang manusia dengan manusia yang lain, bukan kerana keturunan dan kedudukan seperti firman Allah yang bermaksud: "Sesungguhnya
orang yang paling mulia di sisi Allah adalah orang yang paling takwa."

Oleh itu, keluarga yang dibina atas dasar agama ini akan memiliki matlamat yang jelas.

Bagi mereka, hidup di dunia ini hanyalah satu jalan menuju kehidupan akhirat yang abadi sehingga apa pun yang mereka lakukan dalam keluarga itu tidak keluar daripada tujuan asal untuk mencipta keluarga sakinah yang diredai Allah dan berjuang untuk menegakkan agama Allah dalam semua aspek kehidupan mereka.

Dalam keluarga Islam, persetubuhan yang dihalalkan melalui pernikahan itu bukan sekadar memenuhi hawa nafsu semata-mata tetapi ia satu ibadah yang bertujuan
melahirkan generasi atau zuriat yang soleh.

Keluarga yang soleh ini akan melahirkan masyarakat yang soleh dan akan menjadi asas bagi negara yang soleh, bertamaddun dan berwawasan. Konsep pernikahan seperti inilah yang membezakan manusia dengan haiwan.

Salah satu cara terbaik mengurangkan kes-kes perceraian pada usia senja ini ialah dengan menanamkan kesedaran kepada masyarakat mengenai hakikat atau falsafah pernikahan dalam Islam sebagai alat mencipta keluarga sakinah, bukan sekadar memenuhi
keperluan syahwat semata-mata.

Pengisian nilai-nilai agama sangat diperlukan dalam sebuah keluarga agar memiliki matlamat yang jelas dalam mengisi sebuah perkahwinan.

Sajak pejuang terakhir

Khoirul Anam permalink

Sajak pejuang terakhir

perjuangan memakan derita, derita yang nikmat….
dalam memandang cakrawala….senyum penuh kebahagian…
setetes embun pagi sebagai percikan semangat dalam meramu hidup yang tak karuan…
berlapis kemuliaan hanyalah semu…

mimpi bersamamu dalam pesta hollyday…
secangkir kopi terus diseruput sambil cerita akan masa depan yang tiada habis.
berjalan dalam sepi di balik dunia yang menikung..
jalan orang yang takut, lapar, tidak tenang dalam birahi tirani yang tak bertuan.

jalan terakhir, jalan selamat yang kau nanti ..
segengam harapan kasih dalam membuka pintu-pintu suci
kupasrakan diri penuh pasti..
dalam perjumpaan dengan Mu sang Pecinta Hati.

jawanabo@yahoo.com

padepokan Ngangkrik penerus Sang Pokoh.